BONDOWOSO – Puluhan anak muda yang tergabung dalam Tim Eksplore Megalith Bondowoso (TEMB) menggalang pengumpulan tali rafia untuk memagari ribuan situs megalitikum yang tak terawat dengan baik oleh pemerintah, Kamis (3/8/2017).

Puluhaan anak muda tersebut menggalang aksi kumpulkan tali rafia melalui media sosial. Tali rafia yang didapat akan dijadikan pagar pembatas untuk menandai dan melindungi cagar budaya yang tersebar di seluruh Bondowoso.

Aksi tersebut dilakukan sebagai upaya untuk melindungi cagar budaya yang seharusnya dirawat dengan baik sebagaimana layaknya benda-benda sejarah.

“Ini adalah upaya kami untuk menjaga peninggalan prasejarah yang memiliki arti penting dalam perjalanan sebuah peradaban,” ungkap Afifi, salah seorang anggota TEMB.

 

Baca Juga : Desa di Bondowoso ini Diproyeksikan Jadi Sentra Bawang Organik

 

Sementara Ketua Komunitas TEMB, Christyan Agung mengungkapkaan bahwa, terdapat 1200 situs megalitikum terlantar karena minimnya kepedulian pemerintah. Sehingga benda-benda bersejarah tersebut terkadang ada yang dipindah bahkan dihancurkan oleh warga karena mengganggu lahannya.

“Kurang lebih ada 1200 situs megalitikum yang saat ini diabaikan keberadaannya. Kalau tidak ada tindakan secepatnya, khawatir benda bersejarah tersebut lambat laun akan musnah,” ungkapnya kepada Memo Indonesia.

Setidaknya TEMB telah berhasil memagari dua titik cagar budaya yang tersebar di Desa Glingseran, Wringin dan Patirana, Grujugan.

Cristian berharap agar upaya sederhana tersebut dilirik oleh pemerintah agar ada tindakan lebih lanjut. Sebagai bentuk kepedulian anak muda yang sadar akan pentingnya cagar budaya yang semestinya haram untuk ditelantarkan.

“Kami berharap upaya ini dapat dilihat oleh pemerintah sebagai wujud kepedulian anak muda terhadap cagar budaya. Karenanya aksi galang tali rafia ini bisa dinilai sebuah hal positif bagi pemerintah untuk melakuka tindakan lebih lanjut,” pungkasnya. (abr)