Share

BONDOWOSO – Pj Ketua DPC Partai Hanura Bondowoso Muhammad Affan Obaedillah, S, H, menegaskan jika Nawiryanto Winarno alias H. Darma tak lagi menjabat sebagai Ketua DPC Hanura Bondowoso. Menurutnya, Pimpinan LSM Teropong yang kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) tersebut telah diberhentikan oleh DPW Hanura Jawa Timur pada September 2020 lalu.

“Saya memberikan klarifikasi bahwa H. Darma sudah tidak ada sangkut-pautnya lagi dengan DPC Hanura Bondowoso,” terangnya, Jumat (7/5/2021).

Muhammad Affan menjelaskan jika nama Nawiryanto sudah tak ada dalam anggota Partai Hanura sejak ditunjuknya saudara Sunanto sebagai Ketua DPC Hanura Bondowoso pada September 2020.

“Karena Sunanto mengundurkan diri pada Januari 2021, kemudian saya ditunjuk sebagai Pj Ketua DPC Hanura Bondowoso,” jelasnya.

Mantan Aktivis HMI tersebut mengimbau masyarakat agar tidak menyangkutpautkan persoalan yang sedang menjerat Nawiryanto dengan partai Hanura. Sebab, secara status Nawiryanto tak lagi tercatat sebagai bagian dari DPC Hanura Bondowoso.

“Saya ingin masyarakat mengetahui tentang hal ini agar tidak terjadi kesalahpahaman. Sudah ada pergantian kepengurusan baru. Sehingga apapun yang terjadi pada Nawiryanto yang pasti di luar tanggung jawab kami,” pungkasnya.

Baca Juga : Jelang Lebaran, Polres Bondowoso Amankan Puluhan Kg Bubuk Mercon

Untuk diketahui, Polres Bondowoso mengeluarkan daftar pencarian orang (DPO). Surat DPO itu ditujukan kepada dua orang tersangka yang kini menjadi buronan. DPO pertama seorang pria atas nama Nawiryanto Winarno alias H. Darma dan perempuan yang diduga istrinya bernama Martini alias Hj. Maman. Keduanya warga Desa Mangli, Kecamatan Tapen.

Satreskrim menerbitkan surat DPO itu tertanggal 1 Mei lalu. Dalam isi keterangan surat DPO itu, polres memiliki dasar pencariannya dengan laporan polisi tahun 2017 silam. Mereka berdua diduga melakukan tindak pidana penipuan atau penggelapan uang pembelian tebu. Sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 378 Subs 372 KUHP.

Dalam modus operandinya, mereka diduga melakukan penjualan tebu kepada korban dengan nilai transaksi sebesar Rp 910 juta. Setelah korban melakukan pembayaran, ternyata komitmen pelaku tak sesuai janji. Keduanya ingkar, dengan hanya menyerahkan tebu senilai Rp 410 juta.

Hingga kini, kekurangan sebanyak Rp 500 juta juga masih belum jelas. Keduanya belum dapat mempertanggungjawabkan. Selain itu, keduanya juga tak berada di tempat tinggalnya sekarang ini. Kedua tersangka DPO tersebut bekerja sebagai wiraswasta pada keterangan surat DPO. (abr)