BONDOWOSO – Bambu menjadi salah satu komoditas unggulan di Bondowoso. Sayangnya, belum adanya sentuhan tekhnologi dari para pelaku kerajinan bambu membuat progres pengembangan industri bambu menjadi lambat.

Sunandar Wakil Ketua Asosiasi Petani dan Perajin Bambu Bondowoso, mengungkapkan bahwa bambu Bondowoso sudah banyak dikenal di kalangan pecinta bambu nusantara.

“Bambu petung hitam kini menjadi salah satu jenis primadona di Indonesia. Bambu ini banyak ditemukan di Bondowoso,” ujar pria yang juga pemilik usaha Bambu Raya ini.

Di sisi hulu, kata dia, pihaknya sudah terus menggenjot keberadaan bambu jenis petung hitam. Misalnya dengan menggandeng berbagai komunitas dan masyarakat untuk menanam bambu petung hitam.

“Di Sulek, Tlogosari, kita sudah menanam ribuan bibit petung hitam dengan dibantu para pegiat lingkungan. Termasuk juga di kawasan Megasari,” paparnya.

Namun yang menjadi salah satu persoalan saat ini adalah di sisi industrinya. “Banyak perajin kita yang sebenarnya sudah mendapatkan pesanan bambu dari luar daerah. Namun kalau didukung dengan sentuhan tekhnologi, pasti nilai jualnya akan lebih tinggi,” ungkapnya.

Dia menyontohkan, di daerah Bali, Bandung dan Jogjakarta, bambu sudah bisa diolah menjadi bahan bangunan pengganti kayu (polywood). Misalnya untuk sirap dan kusen.

“Dengan menggunakan mesin lamina, produk bambu akan lebih bervariatif. Ini tentu akan menambah keunggulan produk bambu kita,” ujarnya.

Sentuhan-sentuhan tekhnologi semacam itu yang menurutnya sangat dibutuhkan di Bondowoso saat ini. Sehingga industri bambu di Bondowoso bisa bersaing di kancah yang lebih luas. (esb)