Bondowoso – Ekowisata Bambu. Hingga saat ini masih balum banyak daerah yang memiliki objek wisata berbasis konservasi bambu tersebut. Jika digarap serius, tentu wisata bambu akan menambah kekayaan objek wisata yang kini sedang digalakkan di Bondowoso.

Sunandar menjelaskan, ekowisata bambu akan memberikan dampak yang cukup besar terhadap konservasi lingkungan. “Bayangkan saja jika ada hektaran lahan dengan ribuan tegakan bambu, maka sumbangsih terhadap kelestarian lingkungan akan cukup besar,” ujarnya.

Bambu, kata dia, adalah jenis tanaman yang cepat tumbuh. Kemampuan menyimpan airnya cukup tinggi. Selain itu menjadi tanaman yang mampu menyumbangkan oksigen dalam jumlah besar.

Namun selain sisi konservasi, hektaran lahan bambu itu bisa menjadi objek wisata dan menjadi peluang bisnis tersendiri. “Belum banyak daerah yang memiliki objek wisata bambu secara terpadu,” ulasnya.

Selain hektara lahan bambu, di objek tersebut nanti bisa didirikan museum bertema bambu. Termasuk juga bisa didirikan bungalow. Paket yang ditawarkan kepada pengunjung bisa berupa pengenalan varietas hingga manfaat bambu dari hulu ke hilir.

Pengembangan objek ekowisata bambu itu menurutnya sangat memungkinkan di Bondowoso. Mengingat banyak kawasan berupa perbukitan yang sudah memiliki tegakan bambu cukup banyak. Salah satunya yang dia contohkan di Sulek, Tlogosari. Di situ, ada bukit yang sudah memiliki banyak tegakan bambu dengan belasan varietas di dalamnya.

Iswahyudi, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D) Bondowoso, mengungkapkan bahwa keberadaan objek ekowisata bambu itu akan seiring sejalan dengan pengembangan pariwisata di Bondowoso.

“Jika nanti benar-benar ada objek ekowisata bambu itu, tentu akan menambah keunggulan pariwisata Bondowoso. Karena objek kita akan semakin variatif,” ujarnya. Pasar konsumennya menurutnya juga cukup terbuka. Tidak hanya untuk wisatawan domestik, namun juga mancanegara. (esb/habis)