Bondowoso – Bambu menjadi salah satu komoditas unggulan Bondowoso yang kini sedang naik daun. Popularitas bambu khas Bondowoso, khususnya petung hitam, kini meningkat. Tak heran jika produk-produk berbahan bambu, seperti gazebo dan furnitur kini banyak diburu, bahkan oleh penggemar bambu dari luar daerah.

Sunandar, Wakil Ketua Asosiasi Perajin dan Petani Bambu Bondowoso, mengungkapkan bahwa ketersediaan bambu di Bondowoso cukup melimpah. Termasuk juga ketersediaan bambu jenis petung hitam. Apalagi pihaknya juga sudah sering melakukan penanaman bambu untuk menjaga ketersediaan tersebut.

Banyaknya sumberdaya bambu tersebut tentu menjadi peluang tersendiri. Khususnya sebagai bahan baku furnitur dan meubeler. “Namun jika ingin memiliki daya saing tinggi, tentu harus disertai dengan sentuhan tekhnologi,” ungkap pria yang juga pemilik usaha Bambu Raya ini.

Salah satu peluang yang sampai saat ini belum digarap adalah penggunaan mesin lamina. Mesin ini, kata Sunandar, berfungsi untuk mengubah irisan-irisan bambu menjadi balok atau pun sirap.

Selanjutnya, balok atau pun sirap tersebut bisa digunakan sebagai bahan baku meubeler dan furnitur. “Bisa juga untuk bahan polywood dan floring,” jelasnya.

Dengan semakin mahalnya harga kayu saat ini, balok atau pun sirap dari bambu ini tentu menjadi alternatif yang menggiurkan. Mengingat ketersediaan bahan bakunya yang masih sangat melimpah. Selain harganya yang relatif lebih terjangkau, kualitasnya juga tak kalah dengan kayu. Termasuk juga dari sisi kekuatan dan tampilan.

“Penggunaan mesin lamina ini sangat prospektif. Di Jawa Timur belum ada yang menggunakannya,” ujar Sunandar. Sejauh ini, lanjut dia, mesin lamina hanya digunakan di Jogjakarta, Jawa Barat dan Bali. (esb/bersambung)