Share

BONDOWOSO – Drama kolosal tentang Babad Bondowoso dengan berbagai lakon selalu menjadi suguhan paling dinanti pada setiap malam puncak Hari Jadi Bondowoso (Harjabo). Tak terkecuali pada Harjabo ke 199, Senin malam (9/7).

Ribuan masyarakat Bondowoso sesaki jantung kota satu jam sebelum acara dimulai. Dari anak-anak hingga dewasa menyaksikan persembahan dari sejumlah palaku seni asal Bondowoso Republik Kopi. Acara tahunan ini bertabur akan budaya dan seni tradisional. Mulai dari tarian Rontek Singo Ulung sebagai pembuka acara, drama kolosal Babad Bondowoso, hingga ditutup dengan Tarian Ojung.

Drama kolosal Babad Bondowoso yang mengambil judul “Ksatria Panah Bondowoso” itu tetap mengangkat Raden Bagus Asra sebagai tokoh utama yang dalam drama tersebut berakhir dengan kemenangannya mengalahkan Ario Gledek.

Uniknya, pada drama kolosal kali ini, sejumlah adegan pemain mengangkat dan memperkenalkan produk-produk unggulan kabupaten Bondowoso. Yakni kopi dan tape.

Baca Juga : Sepuluh Singo Jadi Pembuka Malam Puncak Harjabo 199

Nampak pada adegan ketika Ario Gledak yang meminta buah tangan berupa kopi dan tape Bondowoso pada Ki Ronggo muda. Kemudian, ada pula dialog yang menyampaikan tentang kesuburan Bondowoso Republik Kopi ini.

Drama yang dimainkan oleh puluhan pelajar yang tergabung dalam kelompok teater masing-masing sekolah ini, berakhir dengan penyerahan tongkat kepada Ki Ronggo. Kemudian, diikuti penyerahan tongkat dari keluarga besar Ki Ronggo kepada Bupati Amin Said Husni.

Usai itu, Bupati Amin Said Husni pun mengundang Salwa Arifin, Ki Ronggo ke 31 yang merupakan Bupati terpilih pasca rekapitulasi KPU Bondowoso. Ia pun memberikan cepuk yang selama ini digunakannya selama melaksanakan tugas sebagai Bupati kepada Salwa Arifin.

Bupati Amin Said Husni dalam sambutannya menyampaikan bahwa membangun Bondowoso haruslah dengan sepenuh hati. Semua harus mendukung dan bersinergi untuk mengembangkan seluruh potensi dengan kreatifitas dan terus berinovasi.

“Rakyatku, bulatkan tekat dan teguhkan hati. Buanglah dendam kesumat dan rasa dengki. Rapatkan barisan dan terus tingkatkan konsolidasi,” urainya. (och)