Share

SURABAYA – Sebanyak 74 bangunan liar (Bangli) di kawasan Jetis Kulon hingga Ahmad Yani (belakang Royal Plaza), Surabaya dirobohkan oleh petugas gabungan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Perlindungan Masyaraka (Linmas), Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga, Dinas Perhubungan Surabaya, serta petugas Kepolisian Kota Surabaya, Selasa (16/5).

Bangli yang berdiri diatas lahan milik PT KAI tersebut dirobohkan dengan mengunakan lima alat berat berupa eskavator dan Buldozer ini untuk melanjutkan proyek pengerjaan Frontage Road (FR) Barat agar tidak akan semacet biasanya.

Kabid Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat (Tibum dan Tranmas) Satpol PP Surabaya, Dari, mengatakan proses penertiban kali ini berjalan lancar, lantaran Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan peringatan kepada pemilik bangunan terlebih dahulu. “Alhamdulillah lancar mas, pemilik bangunan sudah paham dan mengemasi barangnya sendiri-sendiri,” katanya.

 

Baca Juga : BBPJN VIII Surabaya Lakukan Perbaikan Serta Penutupan Lubang Jalan Nasional

 

Menurutnya, proses penertiban bangli ini cukup lama karena menunggu izin dari pemilik lahan yakni PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang berada di Bandung, JawaBarat, “Kami menunggu kurang lebih tujuh bulan untuk dapat ijin dari PT KAI,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Wonokromo Tomi Ardiyanto memastikan, PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya, sudah menemukan pemenang lelang pengerjaan FR Barat. “Selama ini kan berhenti di depan Royal Plaza, Jalan Ahmad Yani,setelah ini PU akan melanjutkan pengerjaan Frontage Road Barat ini,” katanya.

Diungkapkannya, untuk penggeseran Pos Perlintasan Kereta Api di depan Rumah Sakit Islam (RSI) Wonokromo, masih menunggu lelang. “Mungkin ini yang agak panjang waktunya. Karena perlu izin dari Kantor PT KAI Pusat di Bandung. Rencananya Pos itu akan mundur sekitar tujuh meter ke belakang dan saat ini penggeseran pos palang pintu perlintasan ini masih dilelang oleh Dinas Perhubungan Kota Surabaya,” ungkapnya.

Disisi lain, sebagian warga penghuni bangunan terdampak bingung mencari tempat tinggal baru. Uyik (46), ibu tangga asal Malang yang sehari-hari mengamen untuk memenuhi kebutuhan hidup mengaku pasrah. Tadi pagi, sebelum pembongkaran bangunan dimulai, dia pergi bersama beberapa orang kerabatnya yang tinggal dalam satu bangunan, mencari kontrakan baru.

“Tadi pagi saya cari kontrakan, balik ke sini rumahnya sudah hancur. Ya, cuma bisa menyelamatkan alas tidur, barang, sama pakaian yang bisa diselamatkan,” katanya.

Uyik mengaku, sudah lima tahun tinggal di bangunan itu bersama enam keluarganya yang lain. Dia berencana, untuk sementara waktu bertahan di sisa reruntuhan bangunan sampai mendapatkan tempat tinggal baru untuk dirinya dan keluarganya. “Saya tidak tahu mau kemana lagi,” katanya.(sga)