Share

BONDOWOSO – Kemelut permasalahan yang terjadi di Klinik Utama penyakit dalam Kusuma Bhakti Bondowoso akhirnya mulai menemukan titik terang. Ini setelah dilakukan pertemuan antara karyawan dan perwakilan yayasan untuk kali kedua di Aula Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja, Kamis (2/11).

Totok Haryanto, Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja, mengatakan telah disepakati yayasan bersedia menggaji honor karyawan dan tunjangan pokoknya selama 16 bulan.

Pembayaran itu terhitung mulai September 2016 hingga akhir tahun 2017. Pembayarannya sendiri akan dilakukan paling lambat pada 30 Desember 2017.

“Disepakati gaji yang dibayar sesuai dengan UMK pada masa kepemimpinan Dokter Wahono, sekitar 16 bulan,” paparnya pada Memo Indonesia.

 

Baca Juga : Soal Kisruh Klinik Kusuma Bhakti, Pemkab Turun Tangan

Baca Juga : Soal Protes Gaji Karyawan, Ini Kata Ketua Yayasan Kusuma Bhakti

 

Ia menjelaskan, sebenarnya tuntutan para karyawan itu adalah gaji selama 30 tahun. Namun, jika merunut pada UU nomer 13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan, maka pelanggaran UMK terhadap hubungan kerja menjadi kadaluarsa setelah melampui dua tahun.

“Artinya tuntutannya sudah kadaluarsa, ” jelasnya.

Ia memastikan pihaknya akan terus memantau jalannya kesepakatan ini. Sementara terkait dengan pengajuan pailit, Totok mengatakan, itu menjadi ranah pengadilan. Namun jelasnya ada beberapa syarat yang harus disediakan oleh pihak yayasan terkait audit menejeman dan keuangan.

“Hasil audit inilah nanti yang akan menjadi putusan pengadilan, apakah klinik tersebut pailit atau tidak,” jelasnya.

Untuk informasi,  Puluhan karyawan klinik utama penyakit dalam Kusuma Bhakti menggelar aksi protes di halaman depan kantornya, Selasa (24/10). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi atas tunjangan gaji yang diberikan, namun jauh dari UMK (Upah Minimum Kabupaten).

Hastono, Koordinator Aksi Protes, menjelaskan selama 30 tahun berdirinya klinik tersebut, gaji karyawannya tidak pernah sesuai UMK. Bahkan sempat beberapa kali gaji tidak diberikan. Terbaru, gaji dari karyawan yang berjumlah sekitar 30 orang itu berkisar Rp 75 ribu hingga Rp 250 ribu per bulan.

Buntut panjangan dari permasalahan akhirnya mebuat dinasterkait turun tangan dengan menggelar pertemuan diantara kedua belah pihak beberapa waktu lalu. (och)