BONDOWOSO – Oknum pesantren Al-Aziz Desa Pucang Anom, Jambesari DS ditengarai melakukan sabotase dengan menyumbat saluran irigasi yang mengaliri beberapa sawah warga. Akibatnya, beberapa petak sawah mengalami kekeringan bahkan tanaman terancam mati.

“Sawah saya mau mati karena kekurangan air semenjak disumbat oleh orang suruhan pesantren,” Ujar Abdul Wafi (65), Rabu (12/2/2020).

Bapak empat anak itu mengatakan, penyumbatan dilakukan sekitar satu setengah bulan yang lalu. Penyumbatan tersebut dinilainya tak etis sebab dilakukan sepihak tanpa ada musyawarah. Padahal saluran tersebut sudah ada sejak lama dan tanahnya diakui masih milik sesepuh dari bapak Wafi.

“Saya tau kalau disumbat waktu mau mengaliri sawah. Air yang dari hulu tidak bisa sampai ke sawah saya,” terangnya.

Sementara pemerintah desa setempat membenarkan bahwa pihak pesantren telah melakukan penyumbatan. Sebenarnya pihak desa maupun Kecamatan telah melalukan upaya mediasi. Namun, tak membuahkan jalan keluar. Pihak pesantren tetap bersikukuh untuk tetap menyumbat saluran tersebut .

“Desa sudah maksimal mengupayakan persoalan ini. Kepala saya mau pecah urusi persoalan ini. Kalau mereka (Abdul Wafi) memang merasa haknya dirampas oleh pesantren, langsung saja ke pengadilan atau ke Polres. Tempuh jalur hukum,” Jelas Kepala Desa Pucang Anom, Guntur Iriwanto.

Diakui oleh Guntur bahwa kedua belah pihak saling mengklaim kepemilikan atas sebilah tanah saluran tersebut. Sedangkan desa tidak mempunyai keterangan yang menegaskan kepemilikan tanah tersebut.

“Pucang anom tidak punya kerawang desa. Yang ada cuma buku C. Di peta buku C tidak ada keterangan pemiliknya,” jelasnya.

Sementara dari pihak pesantren, Wahab, mengatakan, jika tanahnya milik dari orang tuanya. Oleh sebab itu, penutupan saluran tersebut dinilainya sah-sah saja. Apa lagi memang keberadaan saluran membuat lingkungan sekitar pesantren tercemar kotoran hewan yang dibawa air.

“Waktu penutupan karena banyak air masuk ke lokasi pesantren banyak air bercampur dengan kotoran sapi.

Selain itu, Wahab juga mengatakan jika lokasi saluran tersebut akan terdampak pembangunan pengembangan gedung pendidikan

“Setelah rapat dengan wali murid akan digunakan pembangunan pesantren. Itu setelah kejadian,” Tukas Wahab yang merupakan anak dari pemilik pesantren.

Berdasarkan pengakuan Abdul Wafi, sawahnya pernah ditawar untuk dibeli oleh pihak pesantren. Namun, tawaran tersebut Ia tolak. (abr)