JEMBER – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Jember Solidaritas Kendeng (JSK) mengadakan aksi di depan Pemkab Jember, Senin (27/03/2017). Mereka mengecam penambangan di pegunungan Kendeng Jawa Tengah yang telah memakan korban.

Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jember melakukan aksi solidaritas tersebut di alun-alun kota dalam bentuk orasi dan pernyataan sikap. Selain itu juga ada teatrikal dan pembacaan puisi dari berbagai perwakilan mulai dari organisasi ekstra dan intra kampus. Di akhir, mereka melakukan doa bersama lintas agama sebagai penutup acara solidaritas tersebut.

Akbar Ridho, penggagas aksi solidaritas, menerangkan bahwa dirinya dan beberapa mahasiswa lain tergugah untuk melakukan aksi bela petani Kendeng yang telah merenggut nyawa tak berdosa sebagai bentuk peduli sosial. Dia mengakui bahwa apa yang telah terjadi di Kendeng sana sudah di luar batas kemanusiaan.

“Kami melakukan aksi sebagai bentuk kutukan terhadap pemerintah Jawa Tengah. Seharusnya petani kecil itu diperjuangkan, bukan malah diintervensi dan sampai memakan korban” tegas mahasiswa semester delapan itu kepada Memo Indonesia.

Mengingat Jember sebagai daerah dengan potensi alam yang melimpah, pihaknya turut memberikan peringatan dan himbauan kepada Pemkab Jember serta seluruh masyarakat agar tragedi Kendeng tidak terjadi di kota suwar-suwir ini.

Mereka meminta agar pemerintah segera membuat aturan perda terkait penambangan dan eksploitasi yang telah marak terjadi, khususnya gumuk yang tersebar di seantero Jember.

“Sedikitnya 973 gumuk yang ada di Jember, 30 persennya sudah dieksploitasi” Jelas Ridho. Dia berharap bahwa potensi alam yang ada tidak bisa serta merta dieksploitasi seenaknya saja, apalagi hanya untuk kebutuhan komersial, karena potensi tersebut secara otomatis akan merusak ekosistem lingkungan dan berdampak negatif kepada masyarakat sekitar.

Selain itu dia juga menekankan sikap kekecewaannya terhadap Jokowi selaku presiden. Dia menganggap bahwa ketidaktegasannya dalam mengatasi kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini membuat masyarakat kecil semakin menderita, khususnya petani Kendeng.

Seharusnya sebagai kepala negara, dia bisa tanggap terhadap persoalan yang berujung pada kematian ini. “Presiden sangat bisa untuk mengintervensi kebijakan pemerintah Jawa Tengah yang terkait Kendeng ini. Tapi, nyatanya yah seperti ini, sampai terjadi tragedi dan merenggut nyawa petani kecil,” pungkasnya. (hus/esb)