BONDOWOSO – Salah seorang petani tembakau asal Tegal Mijin, Muhammad Mustafa mempertanyakan sikap dari Pemerintah Daerah untuk melindungi petani tembakau di derahnya. Karena sejak adanya isu harga rokok naik, membuat harga tembakau anjlok. Padahal, kata Mustafa, kualitas tembakau di desanya tidak kalah dari daerah lain.

“Potensi tembaku di daerah saya (Tegal Mijin) bagus, nomer satu di Gudang Garam dan Djarum,” ungkapnya.

Hal ini disampaikan oleh Mustafa saat acara Abeg Rembeg Sarang Bupati di Desa Tegal Mijin, Kamis (20/7).

Menanggapi Hal ini, Bupati Amin Said Husni, menjelaskan bahwa komoditas tembakau memang ada banyak faktor yang menyebabkan kesulitan untuk mengembangkan tembakau di Bondowoso.

Salah satunya adalah terkait dengan cuaca atau anomali iklim yang tidak teratur. “Sekarang susahnya sulit memperhitungkan, kalau menurut hitungan sekarang musim kemarau tapi juga hujan, kalau sudah musim hujan masih ada kemarau,” terangnya.

 

Baca Juga : Anggaran Pertanian Kecil, Ini Kata Ketua DPRD Bondowoso

 

Faktor lainnya, kata Bupati, yakni terkait dengan pembatasan penggunaan tembakau. Ada beberapa ketentuan kesepakatan antara kepala negara di dunia yang membatasi penggunaan tembakau. Ditambah lagi, di Indonesia juga ada ketentuan terkait Undang-undang kesehatan.

“Ada pembatasan-pembatasan yang membuat komoditas tembakau ini mengalami penurunan,” ungkap Amin.

Namun demikian, Ia memastikan bahwa pemerintah daerah telah menjalin kerjasama dengan salah satu perusahaan rokok melalui program kemitraan. “Jadi ada sekian ratus hektar di Bondowoso yang sudah disertakan dalam program kemitraan. Dan saya sedang berupaya agar kerjasama kemitraan ini diperluas.

“Pemerintah juga sedang mencari alternatif lain untuk petani yang sudah tidak bisa menanam komoditas tembakau,” pungkasnya. (och)