Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin, bersama seluruh guru besar dan dosen di Mapolda Jatim,Kemarin.

SURABAYA – Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin, bersama seluruh guru besar dan dosen dari universitas di Jawa Timur membahas tentang radikalisme yang telah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Radikalisme yang berpotensi memecah belah NKRI tersebut banyak terjadi di kalangan para ulama agama dan khususnya mahasiswa.

“Saya mengimbau kepada seluruh guru besar maupun dosen yang hadir untuk mencegah dan menghindari radikalisme agar tidak masuk ke dalam mindset mahasiswa. Sebagaimana mengingat telah beredar statement-statement dari ulama agama yang menyatakan radikalisme dengan maksud untuk memecah belah NKRI,” katanya di Mapolda Jatim tadi siang.

Beberapa statment radikal dari ulama tersebut, Machfud Arifin menegaskan juga terjadi di Surabaya. Dengan adanya kejadian tersebut, kata dia, membuat jajaran Polri cemas dan khawatir terhadap NKRI yang sudah tercampuri pikiran masyarakat Indonesia dengan paham radikalisme dan bom yang diduga dilakukan ISIS masuk ke dalam Jawa Timur.

 

Baca Juga : Gus Ipul : Hadir ke Majelis, Ilmu Bertambah dan Derajatnya Diangkat

 

Untuk itu Machfud Arifin mengundang guru besar beserta dosen dari Universitas di seluruh Jawa Timur untuk mengimbau mahasiswanya. Hal itu ditujukan agar mahasiswa tidak terjerumus dalam paham radikal dan bentuk-bentuk lainnya yang mempunyai maksud untuk memecah belahkan NKRI.

“Rektor dan mahasiswa puluhan ribu orang kalau se-Jawa Timur itu berapa ribu orang bisa menjadi daya tangkal dan menjadi perekat persatuan bangsa ini. Semua kalau mahasiswanya mempunyai bingkai yang sama, saya rasa aman aja. Kecil itu bagi orang-orang yang ingin pemahaman yang tidak sama dengan kebhinekaan bangsa Indonesia akan terasa kecil. Tetapi jangan dibiarkan kecil menjadi berkembang dan bisa memporak porandakan negeri ini,” ujarnya.

Rektor Unair, ProF M. Nasih menjelaskan, forum rektor percaya pada Polda Jatim sebagai penjaga empat pilar, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

 

Baca Juga : 21 Pasangan Mesum Digaruk Polres KP 3 Tanjung Perak Surabaya

 

“Kami akan mendorong mahasiswa yang indikatornya benar-benar Pancasilais dengan melakukan ajaran agama masing masing dengan baik dan benar sudah cukup,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjut Nasih, dari sisi kurikulm akan ada redesign dan ada muatan- muatan tentang ke Indonesiaan.

“Perguruan tinggi akan tetap berpegang teguh pada NKRI, Pancasila, UUD 45 dan tentu saja Bhineka Tunggal Ika itu akan kita lakukan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Rektor Jatim, Prof Hasan berharap agar masyarakat tidak terburu buru menyatakan bahwa apa yang dilakukan penegak hukum sebagai rekayasa atau pengalihan isu.

“Ini yang ingin kami sampaikan, mari pemikiran seperti itu kita mulai hindari dan kita support dalam bentuk apa yang bisa kita lakukan yaitu sinergi dengan aparat. Bagaimana nanti kita benar-benar bisa melihat bahwa sesuatu persoalan tidak tiba-tiba bisa terjadi justru preventive action merupakan hal yang harus diutamakan,” ujarnya.(sga)