Share

BONDOWOSO – Sebanyak 80 orang anggoya BPBD dan bagian tekhnis OPD mengikuti pelatihan Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitupasna) yang digelar BPBD Bondowoso, Selasa (23/3/2021) di Aula Hotel Dreamland.

Dalam pelatihan itu, peserta diajari oleh seorang narasumber dari BPBD Provinsi Jawa Timur terkait kajian kebutuhan pasca bencana sebagai penanganan awal.

Pj Sekretaris Daerah, Soekaryo mengatakan, Jitupasna perlu disusun sebagai acuan dalam rangka melaksanakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Karena itulah, dinilainya Jitupasna ini menjadi bagian penting dari tahapan penanggulangan bencana. Utamanya, saat fase status siaga darurat ke pemulihan.

” Biasanya dilakukan upaya menghitung kerusakan dan kerugian. Penghitungan terhadap gangguan akses dan fungsi serta meningkatnya risiko yang terjadi,” katanya.

Pemkab Bondowoso sendiri, kata Soekaryo, telah menetapkan regulasi dan melaksanakan pengurangan risiko bencana melalui peraturan daerah.

Baca Juga : Disnakkeswan Situbondo Gelar Pembinaan Usaha Unggas

“Bahkan, telah melakukan pembentukan dan pengembangan Desa Tangguh Bencana untuk membengaun kemandirian masyarakat dalam penanggulangan bancana,”tuturnya.

Sementara itu, Kalaksa BPBD Kabupaten Bondowoso, Dadan Kurniawan, menerangkan, Jitupasna bertujuan menyatukan pemahaman baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam melaksanakan penilainan akibat, analisis dampak dan perkiraan kebutuhan pasca bencana.

“Seperti informasi yang berbasis pada bukti-bukti akurat dalam penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana, serta program-program pengurangan resiko bencana pasca bencana,”

Selain itu, kata Dadan, dari pelatihan tersebut bisa terbentuk sumber daya manusia (BPBD dan OPD teknis) yang handal dalam pengkajian kebutuhan pasca bencana serta mampu melakukan pengkajian kebutuhan pasca bencana dengan baik dan benar.

“Sehingga dapat membuat perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi sesuai dengan kebutuhan dan peraturan yang berlaku,” pungkasnya.(och)