Share

BONDOWOSO – Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Bondowoso sukses memberikan pendampingan kepada warga Desa Gayam, Botolinggo dalam menerapkan pertanian hidroganik. Untuk kali pertamanya, Desa tandus tersebut berhasil menghasilkan kurang lebih 40kg padi di luas lahan 2×12 meter.

Ketua PC ISNU Bondowoso Moh Abdul Halik mengatakan, diterapkannya sistem teknologi pertanian hidroganik sebagai bentuk gerakan ketahanan pangan berbasis keluarga di daerah yang rentan mengalami kekeringan. Menurutnya, gerakan tersebut sangat membantu terlebih di saat menghadapi pandemi Covid-19 seperti saat ini.

“Apalagi bila melihat kondisi saat ini yakni menghadapi pandemi virus corona atau Covid-19, ketahanan pangan perlu juga untuk di kedepankan,” ungkapnya saat di konfirmasi, Jum’at (5/6/2020).

 

Baca Juga : Pemkab Bondowoso Mulai Persiapkan Konsep New Normal

 

Khalik mengaku jika kedepan ISNU akan terus mengembangkan pertanian hidroganik. Tentu tidak hanya padi saja, melainkan akan melakukan uji coba pangan yang lain. Seperti labu madu, labu Jepang dan kacang tanah.

“Jadi targetnya, ISNU bisa tanam diwilayah yang selama ini tidak bisa ditanami karena faktor kekeringan,” urainya.

Lahan garapannya pun akan terus ditambah. Bahkan baru-baru ini ada warga yang akan memulai bertani hidroganik di tanah seluas 1.000 meter persegi.

Pertanian hidroganik sangat bermanfaat bagi Desa Gayam apa bila menerapannya sudah maksimal. Sebab, warga tidak harus menunggu musim hujan untuk menanam padi. Artinya, setiap saat lahan bisa menjadi produktif.

“Jadi tanah disana itu sekitar 7 bulan gak dipakai,” jelasnya.

Melihat respon baik warga setempat akan pertanian hidroganik, kedepan ISNU Bondowoso optimis pertanian hidroganik bakal terus diminati.

“Jadi kita ajari masyarakat gayam itu pola tanam nya, budidaya baik sayur, padi dan lain-lain tetap sistem organik semua,” pungkasnya. (abr)