BONDOWOSO – Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Bondowoso mengajak masyarakat di Kawasan Desa Gayam, Kecamatan Botolinggo untuk bertani dengan sistem hidroganik.

Selain karena kejenuhan ekonomi di tengah pandemik covid-19. Desa di kawasan timur itu masuk kategori kawasan kekeringan. Sehingga hanya pada saat musim hujan saja bisa melakukan kegiatan tanam di sawah.

Menurut, Ketua ISNU Kabupaten Bondowoso, Moch Abdul Halik, usai acara panen raya kangkung hidroganik, Kamis (9/4/2020), sistem pertanian hidroganik ini disebutnya punya keunggulan yang pas bagi kawasan kekeringan. Karena memang penggunaan air yang sangat hemat sekali. Di sisi lain, pertanian model hidroganik juga murni menggunakan bahan organik.

“Jadi tidak ada pestisida disitu, pupuk kimia tidak ada disitu. Kita memanfaatkan seluruhnya pakai organik,”tuturnya.

Dilanjutkan oleh Abdul Halik, bahwa dengan model pertanian ini bisa juga memangkas pengolahan tanah. Karena itu tak perlu penggunaan traktor, cangkul, bahkan menyemai rumput di sawah pun tak perlu.

“Kita juga tak mengenal musim, musim apa pun bisa menanam apa pun. Termasuk kita bisa memangkas waktu tanam,”ungkapnya.

 

Baca Juga : Sekda Bondowoso Tak Segan Tutup Distributor Pupuk yang Jual Melebihi HET

 

Sementara, dari sisi ekonomi harga dari tanaman hidroganik itu bisa lebih mahal dari hasil panen pertanian dengan model konvensional. Belum lagi, model pertanian ini yang menjadi pupuknya adalah kotoran ikan. Karena itu, ikan yang diternak juga bisa dijual dengan waktu panen empat bulan sekali.

“Desa Gayam ini sebagai pilot project kita. Kalau ini sukses kami yakin seluruh desa yang kekeringan juga sukses menggunakan teknologi ini,”ujarnya.

Program ini pun, disebutnya, tengah dicanangkan sebagai bentuk gerakan ketahanan pangan berbasis keluarga. Khususnya di wilayah tertinggal dan kering.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Bondowoso, Muhammad Halil, mengatakan, tujuan dari gerakan ini yakni tak lain untuk meningkatkan penghasilan masyarakat. Dengan mengoptimalisasi penggunaan lahan.

“Kita akan memberikan support semaksimal mungkin kegiatan ini. Baik melalui kegiatan anggaran yang ada di Dinas Ketahanan Pangan, dan juga nanti di tim anggaran kita usulkan nanti,”urainya.

Kepala Desa Gayam, Rendy Sapta Setyawan, mengaku antusias terhadap upaya mengajak masyarakat untuk bertani di tengah kondisi alam di wilayahnya yang hanya bisa menanam saat musim hujan.

“Pemerintah Desa akan mensupportmensupport. Tahun depan Pemdes akan melakukan perkembangan hidroganik ini menjadi wisata edukasi hidroganik dengan Dana Desa,”pungkasnya.

Hadir dalam panen raya pertanian Hidroganik yang digagas ISNU ini, pihak Pemkab setempat, Kepala Bank Jatim cabang Bondowoso, Kades Gayam, dan sejumlah pihak terkait lainnya.(och)