BONDOWOSO – Inovasi pembangunan terus diperlihatkan oleh Kepala Dinas PUPR Bondowoso Karna Suswandi. Tidak hanya mengandalkan anggaran negara, Karna juga berkreasi dengan mencari sumber-sumber lain di luar APBD. Salah satunya dengan menggandeng donatur luar negeri untuk membantu pembangunan daerah.

Sebuah terobosan yang kini sukses dijalankan adalah kerjasama dengan donatur asal Swiss. Kerjasama dua pihak ini dilakukan untuk membangun jembatan gantung di sejumlah desa terisolir di Bondowoso.

Karna mengungkapkan, dari sekitar enam desa yang sebelumnya direncanakan, ada dua desa yang sementara ini sudah dipastikan terealisasi. Yaitu jembatan gantung di desa Grujugan, Cermee dan di desa Gentong.

Informasi yang dihimpun Memo Indonesia dari tim volunter asal Swiss tersebut, baru dua desa yang paling memungkinkan. Khususnya untuk pengangkutan alat dan material hingga ke titik dibangunnya jembatan. Sementara di titik lain, sejauh ini belum memungkinkan, karena akses masuk material dan alat tidak memungkinkan.

Di desa Grujugan sendiri, material sudah sepenuhya datang. Setelah diset, material-material itu akan langsung dipasang di lokasi. Sementara di desa Gentong, warga dibantu oleh alat berat PUPR akan melebarkan jalan menuju jembatan terlebih dahulu.

Karna menjelaskan, dinas PUPR selama ini hanya sebatas memfasilitasi saja. Terkait dengan kelaiakan atau prioritas yang akan dibangun, semuanya menjadi kewenangan donatur. “Karena mereka memiliki standar tertentu untuk merealisasikan pembangunan jembatan itu,” ungkapnya.

Sukses bekerjasama dengan donatur Swiss, Karna Suswandi kembali melakukan terobosan kerjasama. Pria yang juga Bendahara PCNU Bondowoso ini menjajaki kerjasama untuk peningkatan sarana-prasarana di bidang pendidikan dengan donatur asal Jepang. “Ini ada teman dari Japan Foundation yang berminat membantu pendidikan di Bondowoso. Kita hanya memfasilitasi saja,” ujarnya saat survey SMA Unggulan NU Bondowoso, akhir pekan lalu (2/6/2017).

 

Baca Juga : Gandeng NU, Donatur Jepang Bantu Dunia Pendidikan Bondowoso

 

Karna yang ditemani oleh surveyor dari Jepang tersebut menjelaskan, bahwa ada 10 titik lembaga yang diminta oleh donatur Jepang tersebut. Salah satu yang dia tawarkan adalah SMA Unggulan NU. Karena itulah, SMA tersebut langsung disurvey. “SMA NU ini secara kriteria masuk untuk dibantu,” ungkapnya

Karna menjelaskan, bantuan yang akan diberikan nantinya bisa berupa pembelian tanah dan gedung. Nilainya, kata dia, minimal Rp 1,5 miliar per sekolah. Secara teknis, lembaga-lembaga tersebut tinggal menyiapkan pengajuan. Jika sekolah yang mengajukan itu masuk kriteria, diperkirakan akhir tahun ini sudah bisa direalisasikan.

Menurut Karna, sementara ini bantuan itu diarahkan ke lembaga di bawah naungan lembaga Ma’arif NU. Di sisi lain, bantuan itu juga bisa dimanfaatkan oleh sekolah negeri. Untuk yg negeri pihaknya akan mengkomunikasikan dengan dinas pendidikan Bondowoso.

Beragam terobosan Kepala Dinas PUPR itu mendapat tanggapan positif dari pengamat kebijakan publik Abdul Ghafur. Menurut ketua lembaga INDESA ini, langkah kepala dinas PUPR sebagai langkah maju bagi dunia pembangunan di Bondowoso.

“Di tengah terus dilakukannya efisiensi anggaran oleh pemerintah, terobosan berupa kerjasama-kerjasama itu membuat pembangunan di Bondowoso terus bergerak. Tentu kita harus mengapresiasi ini,” ungkapnya.

Dia berharap, apa yang dilakukan oleh Kadis PUPR itu menjadi model kebijakan yang bisa ditiru oleh pejabat lain. “Kreativitas itu sangat perlu bagi pimpinan dinas. Jangan selalu kita mengandalkan APBD, apalagi APBD kita memang sangat terbatas,” pungkasnya. (esb)