BONDOWOSO – Minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak, masih sangat rendah. Data dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan, persentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca.

Menurut, Mufiedah Nur, Pustakawan Universitas Muhammadiyah Jember, penyebab rendahnya minat baca ini karena faktor budaya yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Utamanya di lingkungan keluarga, yang menjadi tempat sosial pertama yang dikenal oleh anak-anak.

Seharusnya, kata Mufiedah, keluarga, khususnya orang tua mulai membudayakan mencari informasi melalui buku sejak dini. Khususnya, di usia sekolah Paud hingga sekolah dasar karena di usia itu anak-anak akan sangat mudah mengadopsi kebiasaan dari kecil sampai dewasa.

 

Baca Juga : Budaya Baca Berubah, Perpustakaan Perlu Berbenah

 

“Orang tua itu mungkin bisa membiasakan satu hari ada baca buku kemudian dibiasakan menceritakan kembali apa yang dia baca. Intinya untuk yang pertama meningkatkan minat baca anak adalah keluarga,” ujarnya pada Memo Indonesia.

Selain budaya, faktor lain, menurut kacamata Mufiedah, yakni mahalnya harga buku di Indonesia yang kebanyakan sangat sulit di jangkau oleh anak-anak di daerah.

“Mungkin kalau dari saya sih liatnya kalau di kota-kota besar itu orang-orang bukan nggak mau beli, tapi karena harga buku yang mahal ya. Makanya yang harus digerakkan adalah perpustakaan,” katanya.

Untuk itu, Ia menyarankan agar pemberdayaan perpustakaan untuk menarik minat baca sungguh sangat efektif. Tentunya, juga perpustakaan harus didesain menjadi tempat yang menyenangkan, yang mengundang minat orang untuk membaca. (och)