SURABAYA – Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo menawarkan kerjasama optimalisasi pemanfaatan bahan baku pada Australia. Alasannya, selain memiliki stok bahan baku yang melimpah, letak geografis Australia sangat dekat dengan Jatim. Melalui kerjasama ini, maka biaya khususnya ongkos transportasinya menjadi lebih hemat dibanding Jatim mengimpor dari Negara lain. Demikian disampaikan Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim saat menerima kunjungan Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Chris Barnes di Gedung Negara Grahadi Surabaya, kemarin.

Menurutnya, Jatim masih kekurangan bahan baku, bahkan impor bahan baku
mencapai 50%. Karena itu, Jatim ingin bekerjasama dengan Australia untuk lebih cepat dan efisien.

“Australia berinvestasi di Jatim merupakan nilai tambah atau added value bisa segera dilakukan disini karena pasar besar Jatim, serta sekaligus sebagai hub Indonesia Timur,” ujarnya.

Pakde Krwo mengatakan, Jatim merupakan daerah agro sehingga proses industri agro menjadi bagian penting di kelompok petani. Sedangkan Australia merupakan negara yang sangat berpengalaman di bidang agro dan ketersediaan bahan baku sangat melimpah. Dengan demikian, kerjasama ini diyakini akan membawa dampak positif bagi dua belah pihak.

 

Baca Juga : GARUDA Demo BPN Jatim Tuntut Mereformasi Bidang Agraria Secara Sejati

 

“Untuk merealisasikan kerjasama ini, agar segera dibuat list bahan-bahan baku yang dibutuhkan Jatim dan tersedia di Australia, disusun time line, dan diskusi business,”vujarnya.

Disisi lain, Pakde Karwo juga mengajak Australia untuk bekerjasama di bidang perbankan untuk memberikan stimulus kredit murah UMKM di Jatim melalui metode loan agreement.

“Skemanya, dana dari Bank Australia akan di-bridging-kan dengan Bank Jatim untuk disalurkan kepada sektor UMKM,” ujarnya.

Untuk metode tersebut, ditambahkannya telah dilakukan oleh Pemprov Jatim, dimana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Pemprov dibridgingkan kepada Bank Jatim dengan bunga 2% per tahun, kemudian Bank Jatim berperan menjadi APEX Bank bagi BPR-BPR di Jatim dengan suku bunga kredit efektif sebesar 6% per tahun, lalu BPR diperkenankan menyalurkan dana kepada UMKM dengan bunga 7-9% per tahun .Dan disektor UMKM harus dibela karena mengalami ketidakadilan di era globalisasi. Suku bunga yang ditetapkan kepada UMKM oleh bank di Indonesia pada umumnya sangat tinggi, yakni mencapai 18-19%. Sedangkan untuk perusahaan besar hanya 14%.

“Suku bunga murah untuk UMKM itu solusi agar mereka bisa bersaing dengan perusahaan besar. Jadi kami ingin Bank Australia bisa mem-bridging-kan uangnya di Bank Jatim. Metode loan agreement ini menguntungkan semua pihak, baik bagi UMKM maupun Bank Australia, karena uangnya tidak hilang, malah bertambah dan jadi stimulus ekonomi kreatif,” pungkasnya.

 

Sementara itu, tawaran Pakde Karwo disambut positif oleh Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Chris Barnes. Ia mengatakan, Jatim sejak dahulu menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Karena itu, kerjasama optimalisasi bahan baku dan investasi yang ditawarkan Pakde Karwo akan menguntungkan kedua belah pihak.

“Kualitas bahan baku di negara kami sangat bagus, sedangkan Jawa Timur membutuhkannya dan proses nilai tambahnya bisa dilakukan di Jatim. Ini akan menjadi win-win solution. Saya akan mencari lebih detail lagi bahan baku apa saja yang tersedia dan dibutuhkan Jatim,” katanya.

Chris juga antusias dengan tawaran kerjasama loan agreement, karena itu, ia akan mengundang dua bank terbesar Australia, yakni Australia and New Zealand (ANZ) Bank, serta Commonwealth Bank untuk berdiskusi soal tawaran tersebut. (sga)