Share

BONDOWOSO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso menerima piagam penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur atas program Getar Desa (Gerakan Kesetaraan Berbasis Desa). Sebagai Top 25 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Provinsi Jawa Timur untuk kategori Kolaborasi dalam Kegiatan Penyelenggaraan Pelayanan Publik.

Penghargaan diberikan langsung oleh Gubernur Jatim Soekarwo pada Bupati Salwa Arifin, dalam Otonomi Award 2018 di Surabaya, Senin malam (22/10).

Bupati Salwa Arifin, pada awak media menuturkan, bahwa dalam program Getar Desa ini warga belajar diberi keterampilan sehingga bisa mengembangkan diri membuka usaha kecil. Inilah yang membuat program tersebut mendapat respon dengan baik dari Pemerintah Provonsi Jatim.

“Makanya tadi malam dapat penghargaan itu,” ujarnya pada awak media Selasa (23/10).

Untuk informasi, pada Juli 2017 lalu Pemerintah Daerah Bondowoso melaunching program Getar Desa. tujuan dari gerakan ini yakni meningkatkan kualitas SDM. Dengan indikator semakin tinggi pendidikannya, maka semakin tinggi kualitasnya.

 

Baca Juga : Penyerahan Bantuan Jalin Matra, Bupati Salwa : Kemiskinan Bondowoso Masih 14 Persen

 

Di samping itu, mengutip penyampaian Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso Endang Hardianti, pada Memo Indonesia saat launching program ini, untuk pendidikan di Bondowoso yang menjadi tolak ukurnya adalah rata-rata lama sekolah. Sementara berdasarkan data yang diperoleh dari TNP2K, bahwa angka rata-rata lama sekolah, untuk usia 25 tahun ke atas di Bondowoso yakni 5,57 tahun. Artinya kalau dirata-rata penduduk Bondowoso masih banyak yang buta huruf, dan ada yang belum tamat SD.

“Kita ingin tingkatkan ini, inginnya bisa tujuh lah (angka rata lama sekolah). Sekaligus ini meningkatkan IPM Bondowoso, yang ujungnya adalah menanggalkan predikat Bondowoso Kabupaten Tertinggal,” pungkas Endang.

Dalam program tersebut, sebanyak 23.714 orang usia produktif, 25 – 45 tahun, di Bondowoso akan menjadi calon warga belajar dalam Gerakan Pendidikan Kesetaraan Berbasis Desa (Getar Desa) tahun ajaran 2017/2018. Rinciannya, paket A yakni 1.803 atau 102 kelompok, Paket B sebanyak 13.583 atau 499 kelompok, dan Paket C berjumlah 6.006 orang atau 280 kelompok. Tenaga pengajar atau tutor yang terlibat sebanyak 4.201 orang dari PGRI.

Calon warga belajar ini merupakan masyarakat yang memiliki persoalan, seperti warga yang tidak bisa sekolah di pagi hari karena bekerja, atau mereka yang usianya lebih dari usia sekolah.(och)