Share

BONDOWOSO – Gerakan kembali ke alam yang dilakukan petani bersama Pemerintah Kabupataen (Pemkab) Bondowoso melalui Program Gerakan Bondowoso Pertanian Organik (Botanik) sejak 2008 kini mulai “berbuah manis”.  Itu menyusul setelah sebanyak 22,96 hektare lahan penghasil beras organik resmi mendapatkan sertifikat Internasional dari lembaga sertifikasi Control Union Certification, Belanda.

“Adanya sertifikat internasional yang dikeluarkan pada 23 Maret yang lalu, membuka lebar peluang pasar dunia. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras banyak pihak, utamanya petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Al Barokah,” ujar Plt Sekda, Drs. H. Karna Suswandi, MM kepada Memo Indonesia tadi sore.

Menurutnya, tidak mudah untuk mendapatkan sertifikasi internasional itu. Sebab, kualitas beras harus dijaga dan terus ditingkatkan. Bermula dari pembentukan cluster padi organik di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, dan Desa Taal, Kecamatan Tapen, yang luasnya hanya 20 hektar dan saat ini semuanya luasnya mencapai 135 hektar. Semua lahan organik ini sudah mengantongi sertifikat Nasional.

“Alhamdulilah, saat ini untuk lahan 22,96 hektar beras organik di Bondowoso sudah mengantongi sertifikat Internasional. Ini tentu memberi harapan baru bagi kelompok padi organik untuk terus berkembang sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bondowoso. Terbitnya sertifikat ini, otomatis akan membuka peluang pemasaran beras organik Bondowoso ke pasar global,” tambahnya.

Untuk itu, Plt Sekda lebih lanjut mengatkan, capaian ini sangat bagus, tinggal meningkatkan kapasitas produksinya, sebab beras organik sudah merambah ke Jepang, dan beberapa Negara di Asia. Dia berharap agar petani dapat menjaga kualitas beras organik, sebab sertifikat tersebut akan dievaluasi secara periodik. “Tentu kami akan terus melakukan pendampingan kepada para petani agar kualitasnya tetap terjaga dan kalau perlu terus ditingkatkan,” sambungnya.

Baca Juga : Deputi Kementerian PAN RB: Kopi Bondowoso Mantap!

Plt Sekda mengaku akan terus mendorong gerakan kembali ke alam yang dilandasi kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh dan kelestarian lingkungan hidup melalui komoditas pertanian yang diproduksi secara organik. Kehadiran beras organik harus disambut gembira masyarakat Bondowoso yang sangat memperhatikan kesehatan dan kelestarian lingkungan.

“Masyarakat harus sadar selama ini makanan yang dikomsumsi mengandung residu pupuk dan pestisida kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Itulah sebabnya masyarakat harus mencari bahan makanan yang diproduksi secara organik sehingga aman dikonsumsi dan sekaligus ramah lingkungan,” tambahnya.

Saat ditanya soal persaingan di pasar bebas, pemerintah kata Plt Sekda sudah melakukan persiapan dan langkah-langkah. Salah satunya dengan menjaga mutu dan memenuhi standart pasar yang berlaku di Negara tujuan. Sehingga peluang untuk menembus pasar-pasar Internasional sangat berpeluang.

“Langkah kedua yang akan dilakukan adalah menjaga ketersedian pasokan beras secara konsisten jangan sampai saat ada permintaan tidak siap. Oleh karena itu, untuk menjaga ketersediaan suplai beras tercukupi kelompok tani di Bondowoso akan diberikan pembinaan serta dilakukan perluasan lahan,” sambungnya.

Langkan ketiga yang akan dilakukan pemerintah, lanjut Plt Sekda, akan menggunakan jaringan yang sudah memiliki kemitraan internasional. Sehingga akan lebih memudahkan produk beras organik Bondowoso masuk di pasar Internasional.

“Meski mutunya bagus, dan suplainya memenuhi permintaan, tapi tidak memiliki jaringan Internasional akan kesulitan juga untuk menembus pasar,” pungkasnya. (ron)