BONDOWOSO – Demam berdarah dengue (DBD) nampaknya masih membutuhkan banyak perhatian  dari masyrakat dan pemerintah. Karena sampai saat ini setiap kali musim hujan atau pun pancaroba datang, ada saja beberapa wilayah yang masih terkena serangan penyakit ini.

Tak jarang kasus demam berdarah dengue yang terjadi akan menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa (KLB) dan menelan banyak korban khususnya kalangan anak-anak.

Untuk menyikapi hal ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso menggalakan program Gerakan bersama Masyarakat dan Karyawan untuk Mengendalikan Jentik Aides (GEBRAK MEJA).

Menurut Pasidi Shidiq, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Bondowoso, program Gebrak Meja ini merupakan tindak lanjut dari gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (Juru Pemantau Jentik) yang digalakkan di seluruh Indonesia oleh kementrian Kesehatan.

Melalui gerakan ini, diharapkan bisa menurunkan penderita DBD, dengan angka kesakitan DBD di setiap 100.000 penduduk, maximal hanya 50 orang yang terkena DBD.
“Artinya jika lebih dari 50 orang maka dikatakan bahwa daerah itu KLB Demam berdarah,” Katanya usai kegiatan pembentukan panita Gebrak Meja untuk wilayah Kecamatan Kota, Selasa (9/5/2017).

Menurutnya, kelompok Gebrak Meja ini diseleggarakan di setiap kecamatan dengan struktur organisasi melibatkan unsur Muspika dan Puskesmas di setiap desa.

Lebih lanjut dia menjelaskan, Jumantik merupakan anggota masyarakat yang dilatih oleh Puskesmas setempat untuk memantau keberadaan dan perkembangan jentik nyamuk.

Hal ini dilakukan untuk mengendalikan penyakit DBD di suatu lingkungan dengan cara Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus.
Dalam praktiknya, setiap warga menjadi jumantik di rumah masing-masing. Kemudian setiap minggunya mereka diminta untuk melapor ke Kader Jumantik di masing-masing Desa. “Nanti Jumantik ini memeriksa kondisi rumah yang punya resiko perkembangbiakan nyamuk,” jelasnya.

Adapun sasaran utama dari tempat perkembangbiakan nyamuk di antaranya kamar mandi, gentong, tempat minum burung, fas bunga, sisa-sisa bambu. “Bukan selokan, air WC maupun air-air kotor. Karena Aedes agepty ini lebih subur berkembang biak di air bersih,” demikian penjelasannya.

Di Bondowoso, kata Pasidi, kasus DBD mengalami penurunan yang signifikan. Pada 2017 hingga bulan Mei ini tercatat 255 kasus DBD, dengan dua kasus kematian. Sedangkan pada tahu lalu 2016, pada periode yang sama (Januari – Mei) terjadi 530-an kasus kematian enam orang. (och/esb)