BONDOWOSO – Sebanyak 46 desa yang tersebar di 16 kecamatan di Bondowoso terancam kekeringan. Bondowoso saat ini tengah memasuki musim kemarau.

Kecamatan yang dimaksud yakni Botolingggo, Cermee, Wringin, Tegalampel, Taman Krocok, Curahdami, Binakal, Klabang, Prajekan, Pakem, Grujugan, Maesan, Tenggarang, Jambesari, Wonosari, serta Tamanan.

Ichwan Kusnadi, Kepala Seksi K2 (Kesiapsagaan dan Kedaruratan) BPBD Bondowoso, mengatakan,  desa-desa itu masuk ke dalam daftar rawan kekeringan karena pihaknya memiliki renkon (Rencana Kontijensi) yang telah melalui kajian luas dengan melibatkan semua stakeholder. Termasuk, informasi pokok dari BMKG (Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika) yang menjadi salah satu landasan ditetapkannya desa-desa itu kekeringan.

Baca Juga : Perkenalkan Puncak Megasari, Bondowoso Gandeng Komunitas Malaysia

“Laporan BMKG, peta-peta kekeringan. Terutama tingkat curah hujan, di daerah mana yang kritis, curah hujannya rendah, sampek bulan berapa. Kita konversi semua. Disamping memang nanti ada laporan dari bawah, dari desa yang memang butuh air,”urainya pada awak media.

Sejauh ini, baru ada dua desa yang melaporkan kekeringan. Yakni desa Cangkring, kecamatan Prajekan, dan desa Gayam, kecamatan Botolinggo. Sudah dua pekan terakhir ini pihaknya mengirim air ke desa Gayam, kecataman Botolinggo.

“Sehari kita kirim dua tangki air, kapasitasnya 5ribu liter,”urainya.

Lebih jauh Ia menjelaskan bahwa pihaknya saat ini sedang mengusulkan 17 desa yang tersebar di 10 kecamatan untuk mendapatkan bantuan dari Pemerintah Provinsi. Karena, dari BPBD Provinsi memang meminta usulan dari daerah untuk diberi bantuan sarana prasana lain seperti tandon dan jirigen.

“Untuk mempermudah masyarakat terdampak kekeringan itu mengangkut dan membawa air dari rumah ke lokasi pengambilan air,”pungkasnya. (och)