Share

BONDOWOSO – Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) sedang merealisasikan program kampung buah dan kampung tanaman obat di tiga lokasi. Buah yang dipilih adalah alpukat jenis kendil yang dinilai memiliki peluang besar dalam pemasaran karena baik untuk menjaga kesehatan tubuh.

Kabid Tanaman Pangan Dispertan Bondowoso, Winarto, mengatakan, pada tahun ini pihaknya mulai menginisiasi pembentukan kampung buah dan kampung flory culture atau kampung tanaman obat. Untuk kampung buah sendiri, pihaknya menjelaskan sudah ada tiga tempat yang mulai ditanam sejak November lalu. Diantaranya, Tanah Wulan, Kecamatan Maesan. Desa Rejoagung, Kecamatan Sumberwringin. dan Desa Lanas, Kecamatan Botolinggo.

Masing-masing tempat itu, ditanami 4 ribu bibit pohon, dengan luas lahan 10 hektar lahan pertanian milik warga setempat. Secara total pada tahun ini, mereka menanam di 30 hektar lahan, dengan 12 ribu bibit pohon. “Petani kita bantu bibitnya, pupuk organik dan kimianya. Mereka menanam kompleks mengebun,” jelasnya.

Dikonfirmasi terkait penanaman yang dilakukan secara terpusat, pihaknya menjelaskan, terdapat skala ekonomi. Seperti yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, tentang economic skill. “Kalau orang tanam satu, dua pohon gak bisa cari pembeli dari luar kota,” imbuhnya.

Selain itu, mengaca pada tahun-tahun sebelumnya, dimana pihaknya juga mendapatkan alokasi bibit yang sama sebanyak seribu pohon. Penyalurannya dilakukan secara merata ke desa yang ada di Bondowoso, artinya tidak terpusat dalam satu kawasan. Akhirnya, jumlah produksi dari jenis pohon itu tidak diketahui secara pasti. Oleh sebab itu, pada tahun kali dilakukan secara terpusat.

Baca Juga : Bukukan Transaksi USD 6,06 Miliar, Mendag: Capaian TEI 2021 Sangat Menggembirakan

Lebih lanjut, Winarto juga memaparkan tanaman alpukat dapat tumbuh dengan baik di dataran menengah, maksimal 1500 mdpl. Jika di atas ketinggian tersebut, maka pertumbuhannya tidak akan berjalan maksimal. Tiga daerah yang dijadikan pilot project dinilai sudah sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan untuk menanam alpukat.

Pihaknya juga menilai, buah alpukat jenis Kendil memiliki kualitas tinggi. Bahkan, hanya dalam jangka waktu empat tahun pasca tanam, buah itu sudah dapat dipanen. Satu pohon dapat menghasilkan 1 kuintal buah, serta dapat mencapai 2 kwintal pada tahun berikutnya. “Kendil (jenis alpukat, red) itu besar. Satu buah bisa satu kilo bahkan satu setengah kilo,” katanya.

Dirinya menjelaskan, alpukat jenis ini memang termasuk dalam varietas unggul. Jadi buah ini memiliki peluang pasar yang cukup besar. Selain itu, mengkonsumsi buah ini baginya juga dinilai baik untuk kesehatan. Bahkan dirinya menilai alpukat akan menjadi buah kesehatan di masa depan. “Kita yakini prospeknya masih akan baik kedepan,” ujarnya.

Bahkan pihaknya juga menuturkan, sudah melakukan pembinaan sejak dini. Termasuk registrasi lahan yang digunakan untuk menanam pohon. Tanah tersebut sudah tercatat di Kementerian secara online. Selain itu, pendampingan untuk perawatan juga akan terus dilakukan. Seperti pemangkasan, pemupukan dan lain sebagainya. Terlebih kebanyak orang menanam alpukat hanya dibiarkan begitu saja, hal itu mengakibatkan hasil buahnya tidak baik.

Tidak hanya itu, pada 2022 mendatang, dirinya kembali mendapatkan alokasi untuk penanaman buah yang sama. Buah tersebut akan kembali ditanam di Desa yang sebelumnya dijadikan sebagai pilot project, ditambah Desa Sulek, Kecamatan Tlogosari yang juga dinilai memiliki potensi untuk ditanami. (abr)