BONDOWOSO – Sejumlah pedagang di Pasar Induk Bondowoso meminta Pemerintah Daerah meninjau ulang terkait kebijakan pedagang sore.

Pasalnya pasar sore yang kini dipindahkan ke lantai dua, disebut sepi. Sehingga pedagang alami kerugian. Bahkan ada yang gulung tikar.

Endang, salah seorang pedagang daging ayam, usai mengadu pada Dewan Research Daerah (DRD) wilayah setempat, di Kantor DRD, Rabu (1/4/2020), mengatakan, lantai dua pasar induk Bondowoso jika sudah sore sepi dari pengunjung. Karena mereka enggan naik dengan alasan capek. Dan ketika cuaca sudah gelap takut kepleset karena keramiknya licin.

Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap pendapatan para pedagang.

“Akhirnya secara perlahan modal dagang kami berkurang. Tak hanya itu yang awalnya berjumlah pedagang sebelumnya 10 orang. Karena semakin lama semakin sepi dari pembeli dan barang-barang mereka pun sering dibuang lantaran tidak laku terjual. Akhirnya mereka teman-teman kami ada yang pindah, bahkan gulung tikar,” ungkapnya.

 

Baca Juga : Cegah Penularan Covid-19, DPC PPP Bondowoso Semprotkan Disinfektan di Kecamatan Curahdami

 

“Jika dinas memang ingin rapi dan tertata, kita bisa kerjasama. Seharusnya jika memang mau dijadikan pasar standar nasional jangan para pedagang yang secara bertahap dipindah, akan tetapi fasilitasnya dulu yang dibenahi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DRD Kabupaten Bondowoso, Imam Thahir, menerangkan, persoalan Pasar induk ini tidak bisa diselesaikan secara sepihak, harus banyak pihak terlibat, bupati dan wakil bupati harus melihat persoalan ini. Karena para pedagang ini merupakan salah satu kontributor pembangunan di kabupaten Bondowoso.

“Hari ini kita baru tau apa persoalannya disana setelah ada pengaduan dari para pedagang, ke depannya kita akan mengkaji. Hasil kajian ini nanti kita akan sampaikan ke bapak Bupati dan Kepala Diskoperindag,”pungkasnya.(och)