JEMBER – Ratusan karya seni lukis kaligrafi dipamerkan di IAIN Jember. Kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap budaya kesenian lukis kaligrafi, dengan memanfaatkan potensi terpendam di wilayah Tapal Kuda.

Dimulai pada hari Selasa (18/04/2017), panitia pelaksanaan pameran telah menjaring potensi seni lukis kaligrafi yang ada di wilayah Tapal Kuda. Proses filterisasi tersebut dibungkus dalam sebuah perlombaan seni melukis kaligrafi. Peserta lomba dikerucutkan ke dalam jenjang pelajar dan umum.

Ali Wafa, Dewan Konsultan Institute of Culture and Islamic Studies (ICIS), mengatakan bahwa kegiatan yang diselenggarakannya terbagi menjadi dua bagian. Pertama untuk tingkat pelajar dan yang kedua dibuka untuk umum. “Untuk yang umum dilaksanakan hari ini dengan kriteria khusus,” katanya, Rabu (19/4/2017).

Tujuan perlombaan seni lukis kaligrafi untuk pelajar merupakan upaya penjarigan dini. Untuk umum, Wafa mengatakan bahwa pihaknya membatasi karya yang dapat dipertontonkan di pameran kaligrafi yang terletak di Gedung Aula IAIN Jember. Dia menjelaskan bahwa karya yang dapat lolos ke pameran itu hanya kaligrafi yang bermadzhab Hamidi.

Madzhab Hamidi merupakan sebuah kaidah kaligrafi yang berimam kepada Syekh Bilaid Hamidi. Kaidah yang menjadi patokan ini, lanjut Wafa, merupakan kaligrafi yang lebih condong ke Maroko. “Jadi dalam belajar kaligrafi itu harus jelas sanad dan gurunya, makanya kami menerapkan Madzhab Hamidi ini,” ungkapnya kepada Memo Indonesia.

Karya yang dipertontonkan saat pameran seni lukis kaligrafi ini terdiri dari ratusan karya. Lima puluh karya berasal dari peserta lomba yang dibuka untuk kalangan pelajar, sedangkan sisanya adalah buah tangan dari kalangan umum. Selain itu, kegiatan pameran seni lukis kaligrafi ini juga dimeriahkan oleh seminar kaligrafi.

Yang lebih menarik, pembicara yang dihadirkan adalah seorang pakar kaligrafi internasional, Ustad Athoillah, M.pd, Direktur Sekolah Kaligrafi Al-Qur’an Jombang, Jawa Timur. “Beliau adalah guru yang memiliki kapasitas internasional dan sanad keguruannya masih terhubung ke Syekh Hamidi,” ujar Wafa.

Tujuan dari pelaksanaan kegiatan, lanjut dia, adalah bentuk pengenalan seni tulis kaligrafi yang berkaidah dan bermadzhab. Dia menekankan bahwa dalam penulisan kaligrafi, seperti umumnya, seringkali penulis tidak mengetahui sanad dan kaidahnya. ”Kalau ditanya gurunya dan kaidahnya apa, kebanyakan tidak mengerti. Pada intinya banyak yang hanya asal tulis. Jadi kami perkenalkan guru dan madzhab yang jelas itu seperti apa” pungkasnya. (hus/esb)