BONDOWOSO – Di tengah semakin meningkatnya kasus HIV/AIDS di Bondowoso, Dinas Kesehatan Bondowoso masih minim peralatan untuk penanganan penyakit menular dan mematikan itu. Di sisi lain, hingga saat ini baru enam Puskesmas yang bisa melayani Lini I atau pemeriksaan awal.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Programer TB HIV DINKES Bondowoso, Nurul Imam dalam pertemuan antara Global Fund Aids TB Malaria (GF ATM) dengan Dinkes Bondowoso di Gedung PPNI, Rabu (5/4/2017).

Menurutnya, Bondowoso mesti terus berupaya agar sarana dan prasarana yang dimiliki ke depan lebih lengkap. “Sebab alat pemeriksa seperti CD4 masih merujuk ke Jember,” ujarnya.

Kendati begitu, pihaknya bersyukur sejumlah Puskesmas sudah dapat melayani pada lini 1 (satu) atau pemeriksaan awal. Sejumlah Puskesmas tersebut di antaranya adalah Puskesmas Maesan, Tamanan, Prajekan, Wringin, Sumberwringin, dan Cermee.

Di lain sisi, dia berharap agar Strategy User of Anti Retro Viral (SUFA) sebagai strategi komprehensif untuk penanganan HIV dengan memanfaatkan  Anti Retro Viral (ARV) berjalan maksimal. Targetnya adalah menurunkan kasus baru, menurunkan angka kematian, dan menurunkan stigma serta diskriminasi kepada para penderita HIV/AIDS.

SUFA sendiri adalah upaya agar kasus HIV dapat diketemukan sedini mungkin sebelum masuk fase AIDS. Sehingga ARV dapat segera diberikan dan klien dapat eksis tanpa terkendala oleh penyakit oportunis yang perlu biaya lebih besar dan penanganan lebih sulit. “Oleh sebab itu SUFA menitik beratkan pada semboyan temukan, obati, pertahankan (TOP),” paparnya. (mc/esb)