BONDOWOSO – Keberadaan teknologi dan modernnya sarana transportasi diharapkan bisa mempererat persatuan dan kesatuan. Mengingat, modernisasi ini bisa membuat interaksi sosial menjadi lebih mudah untuk dilakukan dalam hitungan detik.

Bupati Amin Said Husni, saat memimpin upacara peringatan Sumpah Pemdua ke 89, di Halaman Pemda, Jum’at (27/10), sempat memberi contoh tokoh-tokoh pemuda, seperti Muhmmad Yamin dari Sawah Lunto bisa bertemu dengan Yohanes Lemena dari Ambon. Padahal saat itu, sarana transportasi masih mengandalkan laut saja, dan alat komunikasi masih terbatas. Belum lagi jika berbicara tentang perbedaan agama dan suku di antara keduanya.

“Namun fakta sejarah menunjukkan bahwa sekat dan batasan itu tak menghalangi mereka untuk bersatu. Inilah yang kita sebut, berani bersatu,” tuturnya.

Sayangnya, sekarang dengan kemudahan teknologi yang modern, serta sarana transportasi yang mudah, justru sering membuat generasi bangsa berselisih paham, menebar fitnah dan kebencian, dan saling mengutuk satu sama lain.

 

Baca Juga : Agar Anak Muda Bangga Jadi Petani, Ini Kata Bupati Amin

“Seolah-olah kita dipisahkan oleh jarak yang tak terjangkau,” tuturnya.

Untuk itulah, Bupati Amin, dengan mengutip kalimat Presiden Soekarno, mengatakan, agar pemuda Indonesia jangan mewarisi abu sumpah pemuda, tapi warisilah api sumpah pemuda.

“Kalau mewarisi abu saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang, sudah satu bahasa, satu bangsa, dan satu tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir, demikian Bung Karno,” kata Bupati Amin.

Sementara, api sumpah pemuda harus terus dinyalakan dengan melawan segala bentuk yang hendak memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

“Stop segala bentuk perdebatan yang mengarah paada perpecahan bangsa. Kita harus malu kepada pemuda 1928 dan Bung Karno, karena masih harus berkutat di soal-soal seperti ini,” pungkasnya. (och)