BONDOWOSO – Habit baca masyarakat Indonesia, khususnya di daerah, perlahan mulai berubah, dari budaya baca menggunakan buku sekarang beralih ke internet. Hal ini tak lepas dari kemajuan teknologi informasi. Akan tetapi, Habit baca di internet sebenarnya tidak terlalu baik, karena beragam informasi yang beredar cepat di internet juga masih berbaur dengan informasi-informasi hoax atau palsu yang bisa menyesatkan pembaca.

Ini disampaikan oleh Mufiedah Nur, Pustakawan Universitas Muhammadiyah Jember, dalam acara Bimtek Tenaga Pengelola Perpustakaan Sekolah, Ponpes, dan Desa/Kelurahan tahun 2017, di Aula Disparpora, Rabu (2/8).

“Buku aja sekarang dikalahkan internet. Seolah-olah internet bisa menjawab semuanya, padahal belum tentu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan sebenarnya membaca melalui internet itu juga harus diikuti dengan kemampuan literasi informasi dan literasi media, dan tidak semua orang memiliki pengetahuan akan ini. Untuk itu, kata Mufiedah Nur,  keberadaan perpustakaan sangat diperlukan sebagai sumber informasi dari buku-buku. Tentu, ini juga perlu didukung kreatifitas dan inovasi dari para pustakawan di sekolah, ponpes, maupun kelurahan agar bisa membudayakan baca buku-buku.

“Selain itu di sekolah juga, khususnya guru juga perlu meminta murid untuk mencari informasinya di perpustakaan bukan di internet,” paparnya.

Hal penting lainnya yakni, buku-buku yang ada juga perlu terus diperbarui, diperkaya, dan perlu juga menciptakan suasana yang membuat pembaca betah di perpustakaan.

Baca Juga : 2018, Bondowoso Targetkan Seluruh Desa Terapkan SAID

“Untuk menciptakan perpustakaan seperti ini perlu setidaknya setiap sekolah mengalokasikan lima persen dana BOS di sekolah untuk perpustakaan. Di Bondowoso baru ada SMK di Tlogosari ya yang seperti itu, yang kemarin jadi juara satu.”

“Sebenarnya itu ada undang-undangnya bahwa lima persen dari dana bos itu digunakan untuk perpustakaan. Cuma tadi kan, saya dengar dari teman-teman peserta bahwa ada dana bos itu yang sudah dibelikan dalam bentuk paket. Kita berharapnya lima persen itu tidak hanya untuk buku paket tapi kebutuhan perpus itu bukan hanya buku. Lebih jelasnya bisa bertanya ke dinas perpustkaan,” paparnya.

Selain itu, perpustakaan di Bondowoso juga perlu dikelola oleh pustakawan yang memiliki kemampuan leadership, organizational and global thinking, accountability, Service attitude, serta literasi informasi dan media.

Untuk informasi, kegiatan Bimtek Tenaga Pengelola Perpustakaan sekolah, Ponpes, dan Desa/ Kelurahan tahun 2017 diikuti oleh 50 pustaka selama dua hari mulai Rabu (2/8) hingga esok (3/8). (och)