BONDOWOSO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kepolisian Resort Bondowoso menggelar rembug pendidikan untuk mencari solusi penggunaan gawai di kalangan pelajar. Hal ini menyusul adanya pro-kontra tentang penggunaan ‘ponsel pintar’.

Ketua Dewan Pendidikan, Bahar Ma’arif, usai menggelar Rembug Pendidikan di Aula Polres Bondowoso, Senin (29/1), menguraikan, penggunaan gawai di kalangan pelajar saat ini sudah sangat meresahkan. Akibatnya, kosehifitas sosial anak-anak saat ini hancur. Kebanyakan mereka sudah tidak perduli dengan kehidupan sosialnya, karena mereka sibuk dengan gawai masing-masing.

Namun demikian, pihaknya hanya bisa merekomendasikan pemakaian gawai di kalangan pelajar untuk dibatasi. Karena, jika pengunaannya pun dilarang, ini juga bisa berbenturan dengan program pemerintah, yang programnya semuanya berbasis gawai. Seperti, e-learning dan e-book.

“Karena itu yang paling mendesak adalah mengurangi, mendampingi dan mendidik,” jelasnya.

Baca Juga : Sekda Hidayat Sambangi Korban Banjir Wonoboyo

Karena itulah, Dikbud akan membentuk tim kecil yang akan merumuskan rekomendasi terhadap problematika penggunaan gawai di kalangan siswa. Tim kecil ini terdiri atas, Dikbud, Dewan Pendidikan, dan Kepolisian Polres Bondowoso serta sejumlah stake holder terkait.

“Merumuskan rekomendasi, meski pun barusan langkah-langkah teknis dan taktis itu sudah banyak bermunculan. Umpamanya tadi orang tua juga harus didik. Oleh karena itu Dikbud nanti akan mengumpulkan semua wali murid di setiap sekolah lalu Dikbud dan Polres termasuk dewan pendidikan melakukan sosialisasi tentang pentingnya penggunaan gawai itu,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Bondowoso, AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi, mengatakan pihaknya akan mengawal dan membantu memberikan pemahaman-pemahaman terhadap penggunaan gawai di kalangan pelajar ini kepada para orang tua.

“Bisa mengawal dan bisa bersama-sama dari sisi preventifnya memberikan pemahaman kepada orang tua bukan hanya masalah kenakalan remaja, dan narkoba. Ternyata ada juga permasalahan baru nih dari gagdet,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, dua pelajar SMP dan SMA di Bondowoso harus mendapatkan penanganan khusus di Poli Jiwa RSU dr Koesnadi. Sebab, mereka didiagnosis dokter spesialis jiwa mengalami guncangan jiwa akibat kecanduan smartphone. (och)