Share

BONDOWOSO – Pemerintahan Kabupaten Bondowoso mendorong perluasan lahan pertanian padi organik. Dua tahun terakhir ini pengembangan lahan padi organik sudah dilakukan di Desa Tegal Mijin, Kecamatan Grujugan. Luasannya mencapai 20 hektar, dan telah bekerjasama dengan Polinema (Politeknik Negeri Malang).

Selain itu, pengembangan juga dilakukan di desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari dan Desa Sulek, Kecamatan Tlogosari, yang dikerjasamakan dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan luasan 20 hektar.

Munandar, Kepala Dinas Pertanian, menjelaskan dipilihnya desa-desa ini sebagai pengembangan, karena kondisi tanah dan ketersedian air yang telah memadai dan sesuai spesifikasi.

“Harus melihat dari segi teknis masalah pengairannya, sumber airnya, salurannya, dari tekstur tanah, jadi tidak serta merta,” paparnya.

 

Baca Juga : Ratusan Perusahaan di Bondowoso Belum Menggaji Karyawan Sesuai UMK

 

Untuk mewujudkan perluasan lahan padi organik ini pemerintah daerah juga menggelontorkan anggaran sekitar Rp 325 juta per tahun. Dana ini dialokasikan untuk pembinaan, sosialisasi, termasuk pembuatan pupuk organiknya.

“Kontrak kerjanya (anggaran dialokasikan) ini selama tiga tahun mulai tahun 2015 hingga tahun 2017,” jelasnya.

Ia menjelaskan dalam pengembangan padi organik ini memang diperlukan sekitar tiga tahun untuk bisa benar-benar bersih dari pestisida. Setiap tahunnya dilakukan netralisasi terhadap pestisida dengan porsentase yakni, antara 25  persen hingga 30 persen.

Ditemui terpisah, Bupati Amin Said Husni, menjelaskan, saat ini pihaknya terus mengedukasi, dan melatih para petani terkait pertanian organik ini. Selain itu, pihaknya juga memberikan bantuan peralatan yang menjadi kebutuhan dasar pengembangan padi organiknya. (och)