Share

BONDOWOSO – Kabupaten Bondowoso menjadi salah satu dari tujuh wilayah di Indonesia yang dipilih untuk demplot penanaman produk holtikultura berbasis ekspor, berupa pisang Cavendish.

Penanaman perdana yang dilakukan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia bersama Bupati Salwa Arifin dilakukan di lahan seluas 1,6 hektar dengan jumlah bibit 2.425, di Kebun Bibit Dinas Pertanian Bondowoso, di Desa Maskuning Kulon, Kecamatan Pujer, Sabtu (29/1/2022).

Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian RI, Susiwijono Moegiarso, mengatakan, penanaman ini sifatnya demplot.

Artinya, sebelum akhirnya ditanamkan secara massal pada petani, pihaknya memastikan terlebih dahulu kecocokan penanaman di tanah Bondowoso.

“Nanti dalam 10 bulan terus panen, petani bisa lihat. Bisa lihat buktinya. Yang penting adalah dari demplot, disini sudah cocok semua tanahnya dan lain sebagainya,” katanya.

Menurutnya, penanaman pisang Cavendish kali ini juga telah ada off taker-nya. Dalam hal ini, adalah PT. Great Giant Pineapple (PT. GGP).

“Jadi kunci utamanya selain kecocokan untuk komuditas disini, adalah ada off taker. Baik untuk ekspor maupun pasar dalam negeri,” ujarnya.

Ia memastikan program ini bukan untuk industri, melainkan program untuk pemberdayaan petani melalui program CSV (Created Sharing Value).

Sehingga, PT GGP sebagai off taker, nantinya hanya akan mendampingi petani. Kemudian, mengambil (membeli, red) buahnya petani.

Setelah nantinya, para petani bisa berkembang selanjutnya bisa melakukannya sendiri baik di lahannya atau pun di pekarangannya.

Namun, harus tetap disesuaikan dengan standar PT.GGP. Dan itu bisa didapatkan salah satunya dengan memperhatikan aplikasi yang diperuntukan dalam penanaman pisang Cavendish.

“Ada standarnya, ada aplikasinya yang dibangun untuk, kan ini ada aplikasinya untuk nanamnya. Kemudian nanti harus ada Koperasinya,” urainya.

Baca Juga : Bupati Salwa Sambut Baik Bondowoso Jadi Demplot Penanaman Pisang Cavendish

“Harganya nanti dijamin semuanya oleh PT. GGP,” urainya.

Susiwiyono menyebut, penanaman pisang Cavendish ini diharapkan bisa mendorong ekspor komuditas holtikultura. Mengingat permintaan di tingkat pasar global masih over demand dan terbuka luas.

Sementara itu, perwakilan dari PT. GGP, Drh. Welly Sugiono, mengatakan, pihaknya akan melakukan pendampingan agar nantinya kualitas pisang Cavendish disini dengan kebun milik perusahaannya bisa sama. Karena, untuk ekspor harus memiliki 21 sertifikasi internasional.

“Supaya produk mereka bisa sesuai dengan sertifikasi yang kita miliki,” ujarnya.

Karena itulah, nantinya jika demplot di Bondowoso berkembang. Pihaknya akan menempatkan satu tim yang diketuai oleh satu manajer untuk melakukan pendampingan.

Disinggung tentang pasarnya sendiri, pria akrab disapa Welly ini menyebutkan, bahwa ekspor produk pisang ini sendiri menyentuh kawasan Asia.

“Ekspornya kalau pisang ini kita hanya Asia ya, karena kita yang dekat,” ujarnya.

Menurutnya, dalam penanaman pisang Cavendish ini kepadatan dalam satu hektar adalah 2.400 pohon. Dengan tingkat produktivitas per pohon 25 kilogram.

Kepala Dinas Pertanian Bondowoso, Hendri Widotono, menyebutkan, empat bulan ke depan pihaknya akan membuka gratis sekolah lapang petani milenial untuk belajar penanaman pisang Cavendish.

Pihaknya mencari petani milenal, karena memang semua penanaman berbasis digital. Mengingat, semua produknya ini merupakan produk ekspor.

“Jadi setiap bulan nanti akan disini. Kita ajari semuanya. Jadi kita bangun mentalnya dulu,” ujarnya.

Selanjutnya setelah panen perdana berhasil, kata Hendri, pihaknya akan membuka minimal 200 hektar lahan penanaman pisang Cavendish. Dengan bibit yang disediakan oleh perusahaan.

“Ini mangkanya untuk tanah-tanah yang marginal ya, yang minggir, tegalan, yang tadah hujan. Lahan kering ya, di Bondowoso sekitar 60ribu hektaran. Ini berpotensi. Tapi ketinggiannya minimal 400 DPA,” pungkasnya.(och)