BONDOWOSO – Keengganan Bulog Bondowoso untuk menyerap gabah petani membuat geram dinas Pertanian dan Peternakan Bondowoso. Disperta menilai Bulog tidak komitmen dengan kesepakatan yang ditetapkan. Namun begitu, Bulog memastikan bahwa penghentian pembelian gabah petani tersebut hanya bersifat sementara.

“Sementara ini bukan lantas kami menolak gabah petani, tapi Menghentikan sementara karena lantai jemur kami penuh,” ungkap Humas  Bulog Bondowoso Harisun kepada Memo Indonesia.

Penuhnya lantai jemur tersebut dikarenakan kondisi cuaca  yang kurang mendukung, di mana masih seringkali hujan atau mendung. Sehingga proses penjemuran gabah tidak maksimal. Untuk itulah, sementara waktu pihaknya menerima hasil panen petani dalam bentuk beras.

Terkait desas-desus adanya gabah bercampur dengan kotoran yang dikirim petani, Harisun tidak menampik hal itu. Banyaknya kotoran yang tercampur di dalam karung gabah yang petani jual membuat Bulog mengalami kerugian.

“Kita membeli dengan harrga Rp 3700 per kilogram, sudah tidak ada potongan. Kita tidak mungkin akan mengecek karung satu per satu gabah yang begitu banyak. Ternyata memang banyak kotoranya,” jelasnya.

Harisun memastikan, sebagai kepanjangan tangan pemerintah di bidang logistik, pihaknya akan menjaga komitmen yang telah disepakati bersama, utamanya dalam hal pembelian gabah petani.

Sebelumnya, Kepala Disperta Bondowoso Munandar, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak main-main dengan target serapan gabah petani ini. Apalagi sudah ada MOU antara Pemkab Bondowoso, Bulog dan TNI untuk meningkatkan serapan gabah petani.

“Kalau Bulog main-main dengan kesepekatan itu, resikonya silahkan tanggung sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, berdasarkan laporan di lapangan, Bulog terkesan tidak  komitmen terhadap kesepakatan yang telah ditandatangani. Bulog tidak mau mengambil gabah petani.

“Bahkan dalam rapat antara Dandim, Bulog dan Disperta, Bulog tetap tidak mau mengambil gabah petani, hanya mau mengambil beras,” jelasnya.

Terkait dengan sikap Bulog tersebut, pihaknya tentu tidak sepakat. Karena program yang ditandatangani itu adalah serapan gabah petani (Sergap). “Karena kalau hanya mau mengambil beras, berarti bukan Sergap, Tapi Serbet (serapan beras petani),” tandasnya.

Melihat kondisi itu, pihaknya dengan tegas meminta kepada Bulog Bondowoso untuk komitmen dengan program yang telah disepakati. “Tolong petani saya jangan diplokoto. Tolong PPL jangan dibuat berbenturan dengan petani,” harapnya. (abr/esb )