JEMBER – Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jember merayakan milad PMII ke 57 dengan menggelar beragam kegiatan. Salah satunya adalah seminar dan bedah buku yang digelar di Aula Institut Agama Islam Negeri Jember, Kamis (20/4/2017).

Mayoritas peserta berasal dari keluarga alumni PMII dan mahasiswa yang masih aktif di PMII sendiri. Selain itu, peserta yang membludak di gedung yang berkapasitas ratusan tersebut datang dari kalangan mahasiswa, aktifis dan juga akademisi.

Narasumber utama sekaligus penulis buku yang dibedah adalah Zaini Rahman, anggota DPR RI 2009-2014. Sebagai pembanding, M. Noor Harisuddin yang berprofesi sebagai dosen di IAIN Jember dan Al Khonif yang juga merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Jember. Narasumber dan kedua pembanding yang dihadirkan tidak lain banyak berkutat kepada persoalan islam nusantara, fiqh nusantara dan sistem hukum nasional.

Zaini, misalnya, dia menekankan bahwa mendirikan dan bela negara hukumnya adalah wajib menurut akal dan syara’. Dia menilai bahwa bentuk dan sistem bisa beragam sesuai konsensus politik dan karakter kawasan.

“Begitulah nalar berfikir hukum islam ala ulama nusantara, sesuai dengan islam nusantara,” katanya.

Dia juga berpendapat bahwa transformasi sistem norma harus sesuai kehidupan kenegaraan dengan mempertimbangkan asas pluralitas dan kemaslahatan kebangsaan. “Jadi bukan atribut dan symbol keagamaan semata,” sebutnya.

Semenntara dalam sambutannya, Akhmad Taufiq selaku ketua Cabang Jember mengajak untuk kembali ke khittoh. Sambutan yang dilemparkannya ke tengah-tengah peserta seminar tersebut tidak lain merupakan bentuk kekhawatiran terhadap kondisi bangsa dan agama.

Taufiq menyebutkan bahwa di Indonesia tidak perlu lagi adanya generalisasi. Hal ini dikarenakan terdapat lokus teritorial dan kultural yang telah sesuai terhadap tatanan bangsa, negara dan ajaran agama, terlebih agama islam.

Dia menilai bahwa IKA PMII dan PMII secara khusus, dan umumnya untuk seluruh umat islam yang ada, untuk kembali ke khittoh. Dia menekankan bahwa khittoh yang dimaksud dalam beragama adalah islam nusantara, islam yang menjurus pada islam rahmatan lil alamin. “Dalam hal ini, mari kita manfaatkan sebagai momentum untuk kembali ke khittoh. Semoga kita tetap pada jalan yang benar dan diridhoi oleh Allah SWT,” harapnya. (hus/esb)