Share

 

BONDOWOSO – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) kabupaten Bondowoso mengajak para santri untuk turut mengawasi pemilu 2019. Utamanya di lingkungan pesantren.

Mengingat saat ini Pesantren turut menjadi sasaran kampanye. Padahal, pesantren manjadi satu dari empat tempat yang dilarang untuk dilaksanakannya kampanye. Yakni tempat ibadah, lembaga pendidikan, kantor atau gedung pemerintah, serta sarana pemerintahan.

Muhammad Makhsun, Ketua Bawaslu Kabupaten Bondowoso, usai acara Pembangunan Pengawasan Partisipatif bersama Santti dan Pelajar, di Hotel Palm, Kamis (20/12), menerangkan, bahwa dengan semangat itulah pihaknya melakukan langkah pencegahan pelanggaran Pemilu dengan mengajak para santri untuk tau dan memahami regulasi terkait dengan kepemiluan. Utamanya, terkait dengan kepengawasan.

“Karena yang pasti keterbatasan personil Bawaslu, tidak mungkin bisa menjangkau seluruhnya,” ungkapnya.

Ia mengatakan santri yang kemudian menemukan adanya pelanggaran kepemiluan. Mereka bisa menyampailan melalui Panwas desa, Panwascam, atau bisa juga langsung ke Bawaslu.

“Kalau di suatu daerah itu kondisinya agak rawan, temen-temen cukup menyampaikan pemberitahuan awal kepada kami (Bawaslu) bisa by WA atau by phone,” ungkapnya.

Lebih jauh, Ia berharap agar para santri ini bisa membantu dalam proses pengawasan dan penyadaran politik kepasa masyarakat. Pasalnya, santri merupakan ujung terdalam yang bisa disentuh.

“Karena kaum intelektual di desa itu kan temen-temen santri ini. Karena kultur masyarakat Bondowoso kan kultur pesantren. Dan masyarakat Bondowoso itu sangat mendengar suara dari Pesantren,” pungkasnya.

Pantauan di lapangan, Santri yang turut dalam acara Pembangunan pengawasan parsipatif berasal dari 48 lembaga pendidikan dan pondok pensantren. (Och)