Share

SURABAYA – Pemerintahan Kota Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya bersama beberapa dokter hewan mudatelah menginspeksi beberapa sentra penjualan hewan kurban dalam rangka Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah.

Sidak hewan kurban kali ini fokus pada antisipasi hewan kurban yang rawan terjangkit antraks. Kebanyakan hewan kurban yang berasal dari Jawa Tengah patut dicurigai antraks karena memang sampai saat ini tidak boleh masuk ke Jawa Timur.

Sapto, petugas Paramedis Tim DKPP Surabaya mengatakan, sidak ini sudah berlangsung sejak Sabtu (26/8) lalu dan sudah ada lima lokasi di kawasan Surabaya Barat yang telah dikunjungi dan telah diperiksa. “Hari ini ada empat lokasi di Babat Jerawat.Semuanya menjual kambing dan kemarin penjualan sapi di Pakal,” katanya.
Selama sidak ini, diungkapkannya belum menemukan tanda-tanda tertentu mengenai penyakit yang perlu mendapat perhatian. “Hanya beberapa kambing di Babat Jerawat yang kurang sehat dan sudah diberi suntikan nutrisi,” ungkapnya.

Selain dengan menanyakan asal hewan kurban kepada penjualnya, dijelaskannya tim ini menanyakan asal hewan dari Surat Keterangan Kesehatan Hewan Kurban (SKKH). Di lokasi penjualan sapi di Pakal,Tim  menemukan masih ada penjual sapi yang belum melengkapi ternak kurban yang diperdagangkan dengan SKKH dari daerah asal hewan.

“Kami menyarankan, untuk tahun depan mereka harus melengkapi SKKH dari daerah asal ternak. Kalau sekarang, paling tidak dua tiga hari ini sudah beres SKKH yang di Pakal,” jelasnya.

 

Baca Juga : Puluhan Ekor Kambing Mati Secara Misterius

 

Menurutnya, dari lima lokasi yang telah diperiksa, belum ditemukan ada hewan ternak yang berasal dari Jawa Tengah. Sebagian besar hewan itu berasal dari beberapa daerah di Jawa Timur. Seperti dari Balongpanggang, Gresik, Blitar, Lumajang dan Surabaya.

“Kawasan Pakal itu, sampai sekarang masih banyak peternak sapi. Memang jumlahnya tidak terlalu banyak, karena itu mereka juga mendatangkan hewan dari daerah lain, tapi sejauh ini baru dari Jawa Timur aja,” ujarnya.

Sekedar diketahui, Pemprov Jatim pada September 2016 lalu, menjelang Idul Adha, menemukan kasus sapi mati diduga terjangkit antraks di Pacitan. Setelah ditelusuri, sapi itu ternyata berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat itu mengeluarkan pernyataan, untuk sementara waktu Jawa Timur tidak menerima sapi dari Jawa Tengah. Kasus dugaan antraks ini juga sudah dikoordinasikan oleh Gubernur kepada Pemprov Jawa Tengah. (sga)