BONDOWOSO – Tak banyak wanita yang mau beternak sapi. Selain karena pekerjaannya yang membutuhkan tenaga ekstra, beternak sapi juga memerlukan ketelatenan dan tak takut kotor.

Namun berbeda dengan Sofi Indirasari, seorang anggota DPRD wanita di Bondowoso yang berternak sekitar lima sapi jenis semintal, pendet hingga limusin.

Semua proses perawatan terhadap sapi-sapi untuk kontes itu dilakoninya sendiri. Mulai dari membuang kotoran sapi, memberi makan, memandikan, menyiapkan formula untuk sapi, hingga menjemur sapi-sapinya.

 

“Iya juga memperkerjakan orang, tapi lebih kepada mereka membantu saya untuk membeli rumput dan merawat kalau saya lagi ada acara Kunker, rapat di DPRD. Baru mereka yang merawat. Tapi kalau jemur sapi dibantu sama suami saya, soalnya sapinya kan besar-besar ini,”kata Sofi Indriansari, anggota DPRD Bondowoso fraksi PDIP.

Sudah hampir enam bulan terakhir ini, wanita kelahiran 1977 itu lebih sering menghabiskan waktunya di kandang sapi.

 

Baca Juga : Menteri KKP RI Tinjau Pembenihan di BPBAP Situbondo

 

Setiap hari, Ia selalu memastikan sapi-sapinya mendapatkan jatah makan yang tepat. Karena lima sapinya yang diberi nama Antasena, Popye, Ganesha, Kliwon, dan Mahesa itu, kesukaannya juga berbeda.

“Kesukaannya berbeda-beda. Kita harus menyelami kesukaan mereka,”ujarnya.

Bukan hanya urusan makan, Sofi pun seringkali turun langsung membersihkan kotoran sapi. Dan memastikan kandang sapinya tak bau, dan selalu bersih.

Ia sendiri bahkan membuat formula berupa probiotik khusus dari bahan alami. Seperti campuran nanas, pepaya, temulawak, serta beberapa bahan alami lainnya. Probiotik ini membantu pencernaan sapinya agar lancar dan tak mengeluarkan aroma yang tajam. Termasuk juga untuk meningkatkan nafsu makan, dan memelihara bulu, serta menangkal penyakit.

“Saya tergabung di asosiasi pertenak Sapi skala nasional dan regional. Disana saya bisa saling tular informasi. Termasuk tengang pembuatan formula ini,”jelasnya sambil menunjukkan segelas formula yang dibuatnya.

Selama ini, kata Sofi, banyak yang heran jika melihatnya berbicara dengan sapi-sapi itu. Bahkan, seringkali disebut berlebihan.

Tapi, bagi Sofi berbicara dengan sapi-sapinya itu merupakan salah satu bentuk komunikasi secara langsung. Karena, baginya sapi-sapi itu layaknya manusia akan menurut, dan sehat jika juga ditaburi dengan penghormatan.

Ia menyebutkan bahwa dirinya tertarik berternak sapi karena ingin mengajak masyarakat, khususnya peternak sapi untuk lebih semangat dalam meningkatkan kualitas sapi. Karena, selama ini masyarakat di desa taunya beternak sapi hanya dengan memberi makan rumput.

“Padahal kan tidak, untuk memperoleh dagingan yang bagus. Kualitas yang bagus kan harus diberi formula tersendiri,”ujarnya.(och)