Share

 

BONDOWOSO – Eks narapidana Abdul Fatah akhirnya bisa menghirup udara bebas pasca 14 tahun mendekap di Nusakambangan.

Ditemui Memo Indonesia, Kamis (27/9), Ia menerangkan, bahwa di Lapas Batu ada 30 warga binaan pidana SH (Seumur Hidup) yang mengajukan perubahan hukuman. Kebetulan yang lolos hanya tujuh orang, salah satunya, yakni dirinya sendiri. Karena, pidana SH itu jika pengajuannya diterima pidananya menjadi 20 tahun.

“Saya sendiri kan sudah menjalani 14 tahun. Jadi sisa enam tahun. Jadi saya mengajukan pembebasan bersyarat atau PB. Di Nusakambangan yang sudah mendakati pulang, itu dipindahkan di LP yang ada sekitarnyam saya kebetukan ditempatkan di Purwokerto,”terangnya.

Ia mengaku bahwa sudah dua hari ini di Bondowoso, dan menemui sejumlah sanak keluarganya yang datang membesuk di rumahnya. Salah satunya, yakni Ahmad Dhafir.

Saat ditanya, apakah ada komunikasi perihal dirinya yang akan kembali ke dunia politik, Abdul Fatah mengaku masih belum memutuskan hal itu.

“Masih pikir-pikir,” terangnya diikuti tertawa lepasnya.

Sementara itu, Ahmad Dhafir yang datang mengjenguknya, mengatakan, bahwa kehadirannya bukan sebagai kapasitas seorang Ketua Partai. Melainkan, dirinya mewakili keluarga, karena masih ada hubungan famili.

“Saya selaku keluarga bangga, Kak Fatah ini kembali bersama keluarga yang sekian tahun melaksanakan kewajibannya, putusan pengadilan. Tapi jangan sampai kemudian ada anggapan eks narapidana. Karena di saat melaksanakan kewajiban itu kembali seperti semula. Mangkanya kemudian embel-embel eks narapidana jangan dipakai,”terang laki-laki yang telah menjabat sebagai Ketua DPRD tiga kali itu.

Ia menerangkan setelah melaksanakan vonis pengadilan itu berarti sudah kembali bersih.

“Kita berfikir ke depan mudah-mudahan hari ini lebih baik dari kemarin, dan besok lebih baik dari hari ini,”ungkapnya.

Tampak suasana guyup terasa diantara keduanya. Bahkan, sesekali mereka berceletuk tentang masa kecil mereka bersama keluarga. (Och)