Share

BONDOWOSO – Dua ahli nutrisi ternak dari Universitas Queensland Gatton, Australia Prof. Danis Poppi dan Doktor Caren Harlter bekerjasama dengan Unej Kampus Bondowoso akan melakukan observasi pakan ternak alternatif di kabupaten yang dikenal sebagai Bondowoso Republik Kopi ini.

Profesor Ahmad Subagio dari Unej, mengatakan, kedatangan dua ahli nutrisi ini bersama Unej ke Bondowoso untuk mengembangkan kemampuan petani dalam hal memproduksi pakan ternak sendiri berbasis apa yang ada di sekitarnya. Sehingga, nanti para petani pun bisa mengetahui komposisi apa saja yang diperlukan dalam mengembangkan pakan ternak alternatif yang tetap membuat ternaknya sehat dan efisien. Adapun selanjutnya, bentuk tranfers teknologi ini akan disampaikan dengan bentuk training dan pengembangan.

“Pengembangan artinya misalnya petani punya resourch kulit kacang, jagung dan sebagainya. Itu formulanya paling baik seperti apa, itu kan perlu dilihat dulu,”urainya saat berkunjung ke kelompok ternak Mitra Subur, desa Karang Anyar, kecamatan Tegalampel, pekan lalu.

Menurutnya, di Bondowoso ada sejumlah bahan yang berpotensi sebagai bahan pakan ternak alternatif. Seperti singkong, yang tinggi sekali, tapi pemanfaatan untuj pakan rendah sekali. Padahal singkong punya potensi besar sebagai pakan, baik kulit dan daun hijaunya.

Kemudian potensi lain yakni jagung, dan padi. Di samping itu, juga tanaman besar, misalnya sengon, lantoro dan lain-lain.

“Tinggal bagaimana caranya menyiapkan itu semua agar pakan ternaknya bagus,”urainya.

Prof. Danis Poppi, menerangkan, pemerintah Indonesia memiliki program besar terhadap pengembangan ternak. Dari itu semua, dilihat di Bondowoso ini kebanyakan tanah kering untuk tanaman pangan kurang. Tetapi, untuk kemungkinan sumber pakan sangat besar, seperti singkong, kacang, lantoro dan lain-lain.

 

“Ada potensi besar di Bondowoso untuk dikembangkan jadi pakan ternak,”urainya dalam bahasa Inggris.
Di lokasi berbeda, tepat saat Festival Ternak Poncogati, Minggu (29/7), Plt. Sekda Karna Suswandi mengatakan, bisa diterapkan di Bondowoso. Sehingga, mampu menekan pengeluaran pakan ternak yang mencapai sekitar 70 persen pengeluaran para peternak.

“Saya berharap kedepan hasil penelitian ini terus kita kembangkan sehingga para peternak di Bondowoso bisa meningkatkan penghasilannya, sehingga taraf kesejahteraan masyarakat bisa meningkat,”tambahnya.(och)