Share


BONDOWOSO – 71,45 persen dari total 433.065 penduduk bekerja di Bondowoso tahun 2017 masih tamatan SD. Data ini terungkap dalam Gambaran Umum RPJMD kabupaten tahun 2018-2023.

Tertera juga bahwa pada tahun tersebut jumlah pengangguran mencapai 9.244 dengan TPT (Tingkat Pengangguran terbuka) 2,09 persen, dan Tingkat Partisipasi Angka kerja (TPAK) yakni 72,25 persen, serta angkatan kerja 442.309.

PJ. Sekda Pemkab Bondowoso, Agung Trihandono, ditemui awak media membenarkan hal tersebut. Hal ini menurutnya menjadi linier jika ada data yang meneybutkan dmeikian. Pasalnya, angka rata-rata lama sekolah Bondowoso masih 5,55 tahun.

“Itu sebenarnya tidak hanya Bondowoso kok. Rata-rata Jatim juga seperti itu, artinya sebagian besarpekerja kita masih tamatan SD,” ungkapnya usai mengikuti Pembukaan Musrenbang di Pendopo Bupati, Rabu (12/12).

Menurutnya, penyebab banyak masyarakat Bondowoso yang masih tamatan SD sebenarnya banyak faktor. Salah satunya yakni pernikahan dini, kemudian masih ada sebagain masyarakat yang lebih suka bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari daripada sekolah.

 

Baca Juga : Musrenbang RPJMD 2018-2023 Resmi Dibuka, Bupati Salwa Jabarkan 11 Isu Strategis

“Terpenting begini, kita harus mengubah mindset masyarakat bahwa pendidikan itu juga menjadi kbutuhan pokok. Tetapi mungkina da sebagianlah yang menganggap bahwa pendidikan bukanlah kebutuhan. Ini juga manjadi salah satu penyebabnya,” ungkapnya.

Ia menerangkan bahwa dengan tenaga kerja yang mayoritas tamatan SD ini, maka perlu adanya intervensi untuk kegiatan-kegiatan pelatihan dalam rangka peningkatan keterampilan. Sehingga, mereka juga bisa diterima di pasar kerja.

Menurutnya, memang tamatan SD masih bisa mendaptkan pekerjaan, hanya saja menjadi tenaga kasar. Sementara per hari ini banyak perusahaan yang mempersyaratkan bahwa seseorang untuk masuk pasar kerja untuk memiliki keterampilan di bidang tertentu.

“Oleh karena itu program-program pelatihan di dalam rangka untuk peningkatan skill di bidang-bidang tertentu akan terus dilaksanakan oleh Pemkab Bondwoso melalui BLK,” terang Pj. Sekda Agung.

Saat ditanya program Getar Desa ((Gerakan Kesetaraan Berbasis Desa) apakah artinya tidak berhasil, Agung menerangkan justru program Getar Desa berhasil. Pasalnya, di Getar Desa ini, bukan hanya di pendidikan formal saja, tetapi juga di pendidikan vokasi untuk memberikan keterampilan lebih. Bahkan tahun 2017, pihaknya telah meluluskan 17 ribuan warga belajar.

“Untuk yang 25 tahun ke bawah per hari ini kita optimis. Hari ini angka partisipasi pendidikan itu tinggi, artinya apa, mereka sudah sangat peduli dengan itu. Tapi yang membikin angkanya sangat renah 5,55 tahun itu adalah yang usia 25 tahun ke atas, ini kemudian kita intervensi dengan Getar desa” ungkapnya.(och)