Oleh : Ady Kriesna

Dalam teori fisika dasar kita mengenal istilah partikel (particle), yaitu sebuah satuan dasar dari benda atau materi. Dengan tiga jenis unsur  (atom, molekul dan ion) didalamnya, partikel bisa juga dikatakan sebagai satuan bagian terkecil dari suatu materi. Singkatnya, partikellah yang membentuk materi-materi dalam berbagai macam bentuk dan wujud.

Teori fisika dasar ini nampaknya sangat relevan dengan dinamika politik terakhir Kota Tape. Dimana partikel yang membentuk materi-materi berikutnya ialah seseorang yang bernama Ahmad Dhafir.

Betapa tidak, hampir setahun belakangan ini nama Ahmad Dhafir selalu disandingkan dengan nama-nama lain sebagai pasangan calon Bupati-Wakil Bupati pada Pilkada 2018 mendatang. Isu, wacana ataupun media cetak dan elektronik mencatat, sejak kemunculan DASI (Dhafir-KH. Malik Sanusi), berbagai macam puzzle pasangan yang menyandingkan nama Ahmad Dhafir semakin bertebaran. Sebut saja ADAM (Ahmad Dhafir-KH. Qodir Syam), DA’I (Dhafir-Irwan) disusul ABA (Ahmad Dhafir-Bawon Adiyitoni), kemudian Dhafir-Bahar, lalu Dhafir-Endang, DADI (Dhafir-Supriadi) dan isu terakhir DHAHI (Dhafir-Hidayat).

Mulai dari politisi seperti H. Irwan Bachtiar Rachmat (Ketua DPC PDI-P) dan H. M. Supriadi (Ketua DPD Golkar) maupun birokrasi yakni Bawon Adiyitoni (Kabiro Kesra Pemprov Jatim), H. Hidayat (Sekda) dan Hj. Endang Hardiyanti (Kepala Dinas Pendidikan). Temasuk kalangan profesional muncul nama Dr. Moh. Syaiful Bahar (Dewan Pendidikan Bondowoso) dan dari tokoh/kyai/kultur yaitu KH. Abdul Qodir Syam (Ketua PC NU) dan KH. Abdul Malik Sanusi (Ketua Nasdem). Semua nama-nama diatas ibarat puzzle yang disandingkan dengan partikel utama, yaitu Ahmad Dhafir. Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan muncul isu, wacana atau analisa berikutnya dimana Ahmad Dhafir tetap menjadi partikelnya.

Hampir tidak pernah ada isu lainnya yang ‘berani’ menghilangkan Dhafir dari puzzle pasangan. Hebatnya, nama Dhafir tidak pernah diposisikan sebagai orang nomor dua alias calon Wakil Bupati. Dhafir selalu diposisikan sebagai Calon Bupati atau partikel utama.

Sedemikian hebatkah Ahmad Dhafir hingga asumsi atau isu saja tidak berani mengeluarkan tokoh satu ini dari bursa calon Bupati? Kalau asumsi, gagasan ataupun isu yang berada pada dunia das sollen (alam fikir) saja tidak berani, mana mungkin das sein (alam nyata/realita) masyarakat Bondowoso akan menanggalkan nama Ahmad Dhafir dalam kontestasi Pilkada 2018?!

Tulisan Partikel Dhafir ini tidak bermaksud menempatkan Ahmad Dhafir sebagai the great figure (figur besar) atau the irreplaceable figure (figur tak tergantikan) apalagi menuhankan Ahmad Dhafir secara politik. Sebaliknya, tulisan ini hendak meretas academic background (latar belakang akademik) dibalik kokohnya Ahmad Dhafir sebagai central figure.

Setidak-tidaknya, pertama, Ahmad Dhafir mempunyai pengalaman politik dan kepemimpinan yang cukup panjang. Sejak berkarir di PPP kemudian menjadi Ketua PKNU, Ketua PKB bahkan memimpin DPRD Bondowoso selama 3 periode. Pengalaman ini menjadi modal utama yang tak mampu disaingi oleh figur lainnya.

Kedua, kekuatan politik. Ahmad Dhafir adalah ketua partai pemenang pemilu 2014 di Bondowoso. Dengan 12 kursi DPRD, PKB yg dipimpin Ahmad Dhafir menjadi satu-satunya partai politik yang memenuhi syarat pencalonan pasangan calon Bupati-Wakil Bupati tanpa harus berkoalisi dengan partai lain. Kekuatan politik ini juga tidak bisa ditandingi oleh partai politik atau ketua partai politik lainnya.

Ketiga, kekuatan kultur. Diakui atau tidak, Ahmad Dhafir mempunyai hubungan erat dengan kekuatan kultur Bondowoso. Mulai dari kyai, guru ngaji bahkan masyarakat kultur secara umum. Lahirnya JAS HIJAU (Jangan Sekali-Kali Hilangkan Jasa Ulama) yang digagas Ahmad Dhafir adalah salah satu contoh kedekatannya dengan khalayak kultur.

Keempat, kekuatan birokrasi. Langgengnya kekuasan Amin Said Husni sebagai Bupati Bondowoso selama dua periode, diyakini merupakan andil besar Ahmad Dhafir. Pada saat pilkada 2008 dan 2013, Ahmad Dhafir-lah master of campaign-nya dan berperan menjadi benteng pertahanan pertama selama Amin Said Husni menjalankan kepemimpinannya.

Peran-peran tersebut menempatkan Ahmad Dhafir sebagai sosok yang dekat dengan birokrasi. Bahkan dalam tataran tertentu, pada pilkada 2018, dapat dikategorikan sebagai ‘calon bupati incumbent’, tepatnya petahana tanpa tahta.

Apalagi jika menilik fakta bahwa hampir tidak ada Kepala Desa yang tidak mengundang Ahmad Dhafir dalam melaksanakan majelis sholawat nariyah didesanya masing-masing. Realita itu makin melekatkan Ahmad Dhafir sebagai sosok yang mempunyai kekuatan birokrasi yang solid dari atas hingga kebawah.

Kelima, kekuatan personal. Kemampuan Ahmad Dhafir dalam berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat juga menjadi credit point tersendiri. Ormas, Orsos dan OKP ialah lapisan masyarakat kritis yang hampir tidak pernah dihindari oleh Ahmad Dhafir. Forum-forum kegiatan yang dilaksanakan oleh Ormas, Orsos ataupun OKP hampir pasti didatangi olehnya. Dalam konteks ini, Ahmad Dhafir bukanlah sosok yang alergi terhadap perbedaan Ormas, Orsos maupun OKP. Sebaliknya, ditengah-tengah dikotomi antar Ormas/Orsos/OKP, Ahmad Dhafir justru dapat diterima di semua stakeholder tersebut.

Lima postulat diatas ialah paket kekuatan yang menyatu dalam sosok Ahmad Dhafir. Beberapa tokoh lainnya bisa jadi mempunyai kekuatan serupa, namun hampir tidak ada yang mampu menyatukan lima kekuatan tersebut menjadi satu sebagaimana tergambar dalam figur Ahmad Dhafir.

Tak heran jika sebagian kalangan menilai bahwa kompetisi pilkada 2018 seakan-akan sudah diketahui siapa pemenangnya, yakni Ahmad Dhafir bupatinya. Dengan dinamika politik terakhir yang muncul diatas permukaan, bisa jadi hanya akan ada satu pasangan calon, yakni Ahmad Dhafir sebagai calon Bupati bergandengan dengan calon Wakil Bupatinya. Bahkan, dalam tingkatan tertentu, barisan pendukung Ahmad Dhafir sudah tidak lagi berfikir bagaimana memenangkan pertarungan, tapi bagaimana setelah menang bertarung.

Barangkali atas dasar itulah, gagasan, wacana, ide ataupun isu yang berkembang belakangan ini selalu menyuguhkan Ahmad Dhafir sebagai sosok utama. Sehingga tak heran jika arus dan arah politik Bondowoso tidak bisa lepas dari keberadaan dan peran Ahmad Dhafir. Sederhananya, kemana Ahmad Dhafir berada, kesanalah arah mata angin politik tertuju. Pertanyaannya kemudian apakah The Dhafir Particle akan mengantarkan sekaligus melanggengkan The King of Dhafir?! Mari kita amati bersama.

*penulis adalah aktivis Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum-Nahdlatul Ulama (LPBH-NU) dan Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Bondowoso