Miftahul Huda, SH. (Ketua PMI Kabupaten Bondowoso)

oleh: Miftahul Huda*

Pada 17 September 2017, PMI genap berusia 72 tahun. Semenjak Palang Merah Indonesia berdiri tentunya tak terhitung lagi jumlah aksi kemanusiaan yang bermanfaat bagi semua orang. Berbagai generasi telah merasakan peran besar PMI di Indonesia.

Nama PMI mungkin sudah sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia. Di era ini mungkin PMI lebih dikenal sebagai badan yang mengurusi transfusi darah dan terjun saat bencana terjadi, namun penulis yakin tak banyak yang tau apa itu sesungguhnya PMI.

PMI merupakan salah satu badan perhimpunan nasional kemanusiaan yang berlandaskan tujuh prinsip Kepalang Merahan dan Bulan sabit Merah Internasional yaitu, Kemanusiaan, Kesamaan, Kenetralan, Kemandirian, Kesukarelaan, Kesatuan, dan Kesemestaan.

Latar belakang didirikannya PMI juga tak lepas dari kemerdekaan Bangsa Indonesia. Tak akan pernah ada kemanusiaan jika masyarakat negara itu belum lepas dari belenggu penjajahan dan sebaliknya takkan pernah ada kemerdekaan jika masyarakatnya belum menjadikan kemanusiaan di atas segalanya. Karena sejatinya Kemanusiaan dan Kemerdekaan adalah dua hal yang berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Palang Merah Indonesia mengabdi untuk kemanusiaan dan kemerdekaan.

Sebenarnya jika ditilik sejarahnya lebih lanjut, cikal bakal berdirinya PMI sudah ada sebelum negara Indonesia merdeka, yaitu pada saat pemerintah kolonial Belanda pada saat itu membentuk Het-Nederland Indische Rode Kruiz pada 21 Oktober 1873 yang lalu berganti nama menjadi Nederlands Rode Kruiz Afdelinbg Indie (NERKAI). NERKAI inilah yang memprakarsai Dr RCL Senduk dan Bahder Johan untuk membuat proposal pembentukan PMI namun ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1932 dan kembali ditolak oleh pemerintah Jepang pada tahun 1940. Baru pada pascakemerdekaan Indonesia, Soekarno memerintah meteri kesehatan saat itu dr Buntaran Artoatmodjo untuk membentuk suatu badan perhimpunan nasional kemanusiaan untuk melengkapi struktur kenegaraan yang baru dibuat sekaligus untuk menunjukan kepada dunia Internasional bahwa negara Indonesia telah merdeka secara De Facto.

Lalu pada 17 September 1945 secara resmi Palang Merah Indonesia berdiri dengan Moh Hatta sebagai Ketua Umumnya. Moh Hatta kemudian dikenal sebagai bapak Palang Merah Indonesia. Terbentuknya PMI semakin dikuatkan oleh Keppres no. 25 pada tanggal 16 Januari 1950 dan Keppres No. 246 pada tanggal 29 November 1963.

Secara Internasional PMI diakui oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC) pada 15 Juni 1950 dan masuk liga Perhimpunan Nasional ke- 68 oleh Perhimpunan Palang Merah dan bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) pada Oktober 1950. Hingga kini PMI telah ada di 33 Provinsi, 371 Kabupaten/Kota, dan 2.654 Kecamatan .

Kini bisa dikatakan bahwa PMI adalah satu-satunya badan organisasi kemanusiaan terbesar di Indonesia yang dalam menjalankan tugasnya berpegang teguh pada Tujuh Prinsip Dasar Gerakan, Konvensi Jenewa, dan Pancasila. PMI menjadi badan kemanusiaan yang dikenal netral dan tidak membeda-bedakan status, golongan, suku, ras, agama dan perbedaan-perbedaan lain yang menyekat dalam memberikan pelayanan terbaik, semuanya hanya demi kemanusiaan. Sesuai dengan kata-kata yang diucapkan oleh bapak Palang Merah dan Bulat Sabit Merah Internasional, Jean Henry Dunant; siamo tutti fratelli. Kita Semua Bersaudara.

Di usia yang telah mencapai 72 tahun tentunya PMI semakin matang dan menjadi garda terdepan dalam setiap peristiwa-peristiwa yang membutuhkan uluran kemanusiaan. Seperti saat bencana tsunami Aceh 2004 yang lalu dimana PMI beserta semua unsur relawan bahu-membahu membangun Aceh seperti sedia kala, hingga setiap tanggal 26 desember diperingati sebagai hari Sukarelawan Nasional. Kiprah PMI tidak hanya dalam negeri namun juga di Negara lain seperti pada saat ini PMI sedang membuka donasi kemanusiaan untuk mendirikan rumah sakit di Rohingnya, Myanmar.

Ke depan tentu tantangan akan semakain berat dan sulit, mirisnya RUU Kepalang Merahan, untuk memberikan perlindungan para sukarelawan dalam menjalankan setiap misi kemanusiaan belum di sahkan. Di usia yang sangat matang ini, apresiasi negara atas kerja kemanusiaan sudah saatnya dimantapkan dengan disahkannya UU Kepalang Merahan.

Atas segala kiprah dan peran PMI di dalam maupun luar negeri, patut diberi apresiasi setinggi-tingginya. Dengan segala pengorbanan dan pengabdian yang tinggi tanpa pamrih kepada masyarakat. Tentu saja bukan hal yang mudah mencapai umur 72 tahun dan senantiasa mendapat kepercayaan penuh masyarakat. Butuh etos kerja keras yang tinggi dari para staf, pengurus, dan tentunya semua unsur relawan PMI.

Adalah suatu kebanggaan bagi seluruh staf, pengurus dan sukarelawan khususnya penulis menjadi bagian dari keluarga besar Palang Merah Indonesia di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Karena pada hakikanya sebaik-baik insan adalah yang bermanfaat bagi sesama, dan tujuan utama manusia di bumi hanyalah dherma dan dharma.

Selamat hari jadi Palang Merah Indonesia yang ke-72 Tahun, tetaplah mengabdi tanpa batas untuk tanah air dan kemanusiaan. Jayalah Indonesiaku, Jayalah Palang Merah Indonesia.

“Kebahagiaan anda tumbuh berkembang manakala anda membantu orang lain. Namun bilamana anda tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan sebuah tanaman, harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi.” – J. Donald Walters.

*Penulis adalah Ketua PMI Kabupaten Bondowoso