Share

Penulis Ketua Pokmas Lentera Sumberejo, Ghozi Zainuddin

Tulisan ini terinspirasi oleh dawuh Kiai Afifuddin, bahwa jujur, baik tidak jujur dan tidak baik itu adalah fitrah manusia dan tidak ada hubungannya apa agama mereka.

Di Jepang yang mayoritas penduduknya non-Islam itu sangat memegang prinsip-prinsip kejujuran, di Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu juga menjaga nilai nilai kejujuran, di Bali kita parkir sepeda dan kuncinya ditinggal di sepeda akan aman dari pencurian. Dengan bercanda Kiai Afifi berseloroh, ajaran islam yang dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat yang bukan Islam.

Dalam diskusi beberapa waktu yang lalu para ketua-ketua partai pendukung Pak Karna dengan beberapa komunitas sepakat bahwa konsentrasi kita untuk membuat Situbondo lebih maju dan lebih makmur pada sisi gagasan. Dan bagaimana gagasan itu bisa diaplikasikan oleh Pak Karna sangat penting untuk melibatkan semua pihak dan masing-masing memberikan ide, gagasan yang bisa dinasionalisasikan itu artinya usulan, isu tidak berkutat pada simbol-simbol yang multi tafsir dan cenderung menyesatkan.

Dalam diskusi the sosiologi shariah yang diadakan oleh Makhad Aly Sukorejo tanggal 30 Mei 2024, Pak Isfironi menyampaikan, sangat sulit memahami apa makna agamis dan tidak agamis. Apakah mereka yang tinggal dekat pondok pesantren, apakah mereka yang selalu pakai sarung, pakai peci adalah agamis. Sementara, mereka yang jauh dari pondok, tidak sarungan tidak agamis.

Tentu akan menimbulkan perdebatan perdebatan selama narasi itu tidak dilogikakan dan tidak ada argumentasi yang terukur.

Bagaimana dengan persoalan politik menjelang Pilkada langsung terkait dengan isu-isu agama dan simbolisasi politik untuk Situbondo. Ada beberapa analisis menarik dari hasil kajian diskusi yang dilaksanakan oleh Pokmas Lentera Sumberejo, pertama, secara umum rakyat Indonesia sudah mengalami lompatan-lompatan politik positif yang luar biasa termasuk masyarakat Situbondo.

Baca Juga : Desa Gubrih Ikut Lomba Desa Berseri Tingkat Jatim, Penilai : Punya Potensi Besar

Rasionalitas mereka soal pilihan tidak lagi berkutat soal surga dan neraka tapi lebih melihat bagaimana sosok pemimpin, bagaimana program pemimpin jadi antara kehidupan pribadi dijadikan penilaian yang utuh. Walaupun agamanya bagus tapi tidak punya kemampuan memimpin atau punya kemampuan memimpin tapi agamanya tidak bagus tidak akan dipilih.

Kedua masayarakat sudah paham betul apakah partai itu nasionalis atau agamis ideologinya adalah Pancasila, politik kebangsaan, kemajemukan, bhinneka tunggal ika sudah menjadi tradisi dan budaya politik.

Perbedaan pilihan adalah hal yang lumrah, sudut pandang yang berbeda adalah keniscayaan yang itu justru menjadi kekuatan untuk berkompetisi secara positif. Tidak ada lagi umpatan kotor, tidak ada lagi saling menyerang, yang ada adalah kesadaran bersama bagaimana membangun Situbondo lebih baik. Janganlah kita menjadi politisasi yang sarat makna (satu sisi bicara soal politik kebangsaan disisi yang lain menyerang dan merendahkan)

Diskusi juga menyoal bagaimana kepemimpinan Pak Karna selama menjadi orang nomor satu di Kabupaten Situbondo. Pak Karna adalah sosok politisi agamis nasionalis, dia mampu menjalankan nilai-nilai agama dan juga mampu dalam soal administrasi kepemimpinan. Pak Karna tidak pernah berteriak untuk mencintai baginda Nabi Muhammad, tapi selalu ada hadir untuk meramaikan majelis majelis shalawat.

Pak Karna tidak pernah teriak untuk memakmurkan masjid, tapi Pak Karna begitu peduli dengan keberadaan dewan masjid. Pak Karna tidak pernah berteriak soal pentingnya guru ngaji, tapi kebijakannya untuk memperhatikan kesejahteraan guru ngaji jelas terlihat.

Pak Karna lebih memperlihatkan keteladanan dari pada berkoar-koar dan menebar janji. Semoga Pilkada Situbondo 2024 ini aman sejahtera. Amin

*opini ini menjadi tanggung jawab penulis