BONDOWOSO – Hidup di daerah perkotaan tidak selalu identik dengan sebuah keberuntungan. Ketimbang di desa, memang merbagai macam kebutuhan konsumsi sehari-hari lebih mudah didapat. Tapi kondisi ini tidak selalu bernilai positif. Kemudahan justru akan membuat masyarakat kota kerap berprilaku konsumtif. Sama sekali tidak pernah berfikir bagaimana jika suatu hari kebutuhan mereka langka bahkan habis. Tidak sadar bahwa saat ini pademi Covid-19 sedang mengancam krisis ketahanan pangan Nasional.

Tapi tidak semua masyarakat kota berfikir demikian, ia adalah Maswijaya, seorang ASN asal Kabupaten Bondowoso yang sadar akan pentingnya menjaga ketahanan pangan. Pria 38 tahun, kelahiran tahun 27 Mei 1982 ini sadar betul bahwa persoalan ketahanan pangan harus menjadi perhatian serius. Terlebih dalam situasi krisis seperti sekarang ini. Ia berfikir bagaimana cara warga perkotaan dapat berkontribusi menciptakan ketahanan pangan dalam situasi keterbatasan lahan.

Seperti rumah-rumah perkotaan pada umumnya tidak memiliki pekarangan luas. Sehingga untuk bercocok tanam secara konvensional sangat tidak memungkinkan. Tapi ia tak mudah menyerah, hingga keinginan kuatnya untuk bercocok tanam ia salurkan lewat media tanam Polybag sebagai pengganti lahan sawah.

“Saya berfikir bagaimana caranya lahan yang minimalis dapat menghasilkan hasil Maksimal. Maka dipilihlah media tanam Polybag ini,” ucapnya di sela-sela sedang merawat padi Polybag-nya.

Yang ia pilih adalah tanaman padi. Yang tak lain merupakan salah-satu bahan pokok paling krusial yang setiap hari dikonsumsi oleh 200 juta Masyarakat Indonesia. Namanya Padi HRD 700 ciptaan Prof.Dr. Ir. Hariyadi, MP Direktur Pusat Kajian Pertanian Organik di Malang yang juga menunjuk Maswijaya sebagai Direktur Pusat Kajian Pertanian Organik Perwakilan Bondowoso. Tak tanggung-tanggung, padi yang dipilihnya dalam 1 Polybag-nya dapat menghasilkan 1 sd. 2 Kg gabah kering sawah. Dalam 1 malai dengan panjang 40 cm bisa menghasilkan sebanyak 700 butir padi. Jumlah itu tentu jauh lebih banyak dibanding padi pada umumnya yang hanya dapat menghasilkan 200 bulir dalam satu malainya.

“Ukuran Polybag ini 40×40 cm. 1 meter persegi lahan berisi 9 Polybag yang mana potensi hasil panennya bisa sampai 14 sd. 18 kilogram gabah kering sawah” tuturnya sambil lalu menyiram dan menyiangi gulma atau rumput liar satu demi satu padi Polybag-nya.

Setiap pagi, sebelum berangkat ngantor, Wijaya rutin menyiram satu persatu padinya. Pun sepulang kerja, aktivitas menyiram kembali dilakukan. Dan setiap lima hari sekali ia beri pupuk dan anti bakteri juga anti fungi agar terhindar dari hama.

“Perawatannya sangat sederhana. Cukup siram saat pagi dan sore dan pupuk setiap lima hari sekali,” jelasnya.

Lahan yang ia manfaatkan untuk menampung polybag lokasinya terpencar. Ada yang ditempatkan di halaman rumah, lahan samping rumah yang biasa dibuat untuk menjemur pakaian dan beberapa halaman milik tetangga.

“Ini kan tempat tanamnya berbeda-beda. Pekarangan yang tidak terurus dan tidak produktif saya manfaatkan, bahkan pekarangan kosong milik tetangga yang kondisinya sama saya sewa untuk pertanian padi polibag” ujarnya.

Berkat kerja kerasnya Ia berhasil memiliki 8.000 Polybag dengan total luas lahan 1.000 meter persegi. Diperkirakan ketika sudah panen akan menghasilkan 8 sd. 10 ton gabah kering sawah. Dan saat ini juga lagi mengembangkan Pertanian Padi Polibag di Tanian Lanjheng Pejaten serta lahan pekarangan di Karang Anyar.

“Jumlah itu, sama dengan hasil panen padi biasa yang ditanam secara konvensional di sawah dengan luas 1 hektare,” pungkasnya sambil tersenyum.

Dikutip dari Jawa Pos ‘Memperkuat Ketahanan Pangan di Masa Pendemi’, Berdasar perkiraan data empiris yang ada, Kementerian Pertanian memperkirakan stok beras memang masih aman sampai akhir Desember 2020. Namun, bagaimana dengan tahun 2021 dan tahun-tahun selanjutnya.

Bayangkan jika banyak warga perkotaan bisa meniru inisiatif Wijaya yang turut berkontribusi dalam menciptakan ketahanan pangan. Bukankah ketahanan pangan Indonesia akan kebal meski sedang dilanda pademi?