BONDOWOSO – Di tengah kondisi masyarakat yang  majemuk  sekarang ini, keberadaan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia adalah anugerah. Karena melalui sila-silanya mampu menjadi perekat dan pemersatu bangsa.

Makna Pancasila melalui sila-silanya  hendaknya tidak hanya dihafalkan, tetapi juga perlu adannya wujud nyata dari setiap warga negara Indonesia untuk mengimplementasikannnya dalam kehidupan sehari-sehari. Semangat itulah yang diusung dalam sarasehan dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 yang dilaksanakan di alun – alun kota Bondowoso, Rabu (31/05/2017).

Semangat dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yang harus terus digelorakan karena menjadi perekat bangsa ini. “Sehingga tidak ada lagi diskriminasi antara penduduk yang satu dengan yang lainnya, begitu pula tidak ada diskriminasi antar wilayah yang satu dengan wilayah lainnya, yang kesemuanya menjadi satu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berazaskan Pancasila,” kata ketua Rumah Pancasila Bondowoso, Jhoni. Acara tersebut berlangsung sederhana namun khidmat. Kegiatan dihadiri oleh sejumlah organisasi mahasiswa, ikatan alumni ormawa seperti, IKA PMII, Persatuan Alumni GMNI dan KAHMI serta IPNU.

 

Baca Juga : Pakde Karwo Instruksikan Jajaran Pemerintahan Selenggarakan Peringatan Hari Lahir Pancasila

 

Presidium KAHMI Bondowoso Miftahul Huda menjelaskan bahwa sejarah telah mencatat  Pancasila sebagai dasar negara  beberapa kali diubah sehingga sempat menjadi momok menakutkan pada orde baru. Untuk itu, seluruh rakyat, bangsa dan negara Indonesia harus mampu menjaga dan mengawal Pancasila agar tidak terjadi hal-hal yang dapat mengganggu keamanan dan merusak keutuhan NKRI.

“Pada masa SMP dulu, saya sangat benci terhadap Pancasila. Karena Pancasila waktu itu adalah hal yang menakutkan. Orde Baru tidak hanya memonopoli kekuasaan, tetapi juga memonopoli kebenaran. Sikap politik  masyarakat yang kritis dan berbeda pendapat dengan negara dalam prakteknya diperlakukan sebagai pelaku tindak kriminal atau subversif,” ceritanya.

Sementara itu, Syaiful Bahar selaku ketua Dewan Pendidikan yang juga hadir, menegaskan bahwa Pancasila perlu terus dimasyarakatkan, baik melalui pendidikan formal di sekolah dan perguruan tinggi maupun melalui sosialisasi kepada masyarakat secara luas.

“Hal ini sangat penting karena nilai-nilai Pancasila sudah mulai luntur akibat pengaruh era globalisasi saat ini,” pungkas Bahar. (abr/esb)