Share

Oleh: Rosidatul Kamariyah

Diera millenial ini, organisasi mahasiswa punya tantangan berat, termasuk bagi Korps HMI-wati (Kohati). Kohati tidak hanya menghadapi tantangan keumatan (eksternal) tetapi juga internal Kohati sendiri. Kohati harus mampu memantapkan diri sebagai insan muslimah sejati. Yakni muslimah yang berjiwa qurani. Artinya berperilaku sebagai muslimah sesuai tuntunan al-Quran.

Kohati harus siap menjadi garda terdepan sebagai organisasi mahasiswi dalam menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan menghidupkan organisasi HMI maupun Kohati guna menumbuhkan rasa cinta kohati terhadap Agama Islam dan Negara Indonesia.

Kajian mengenai empat peran perempuan yang menjadi ciri khas kajian dalam setiap pelatihan di kohati (LKK), harus mampu disinergikan dengan peran perempuan versi al-Quran untuk kemudian menjadi wacana di internal Jawa Timur, Nasional bahkan Internasioanal. Karena melihat potensi Kohati untuk meningkatkan kualitas kadernya sebagai generasi umat Islam dan Bangsa. Bahkan, kohati harus mendukung kegiatan-kegiatan yang mencerminkan nilai-nilai keislaman. Salah satunya melalui gagasan yang kini mulai diwujudkan dalam Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidz Al-Quran yang dikembangkan menjadi Jember Institute. Jember Institute yang berkiblat pada Monash Institute akan melahirkan kader-kader HMI dan Kohati yang Islami. Bahkan, kader HMI-Kohati yang hafal al-Quran.

Kader-kader ini nantinya yang akan menjadi leader, pemimpin organisasi perkaderan yang akan mampu mewujudkan tujuan HMI. Yaitu Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya Masyarakat adil, makmur yang diridhoi Allah SWT.

Penjabaran terkait tujuan diatas yaitu: Pertama, kader yang berkualitas insan akademis adalah kader yang berpendidikan tinggi, berpenetahuan luas, berpikir rasional, objektif, dan kritis. Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang yang diketahui.

Kedua, berkualitas insan pencipta. Yaitu yang sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik. Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan kemajuan umat Islam. Kemudian memiliki sifat yang independen, terbuka dan kreatif yang kemudian ditopang oleh kemampuan akademisnya. Serta mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati oleh ajaran Islam.

Yang ketiga, berkualitas insan pengabdi. Yaitu insan yang ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat. Sadar membawa tugas insan pengabdi, bukannya hanya membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menjadi lebih baik.

Keempat, berkualitas insan yang bernafaskan islam. Yakni Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola pikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menjadi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai Universal Islam. Dengan demikian, Islam telah menafasi dan menjiwai karyanya. Ajaran membentuk Unity Personality dalam dirinya. Nafas Islam telah memebentuk yang utuh tercegah dari Split Personality tidak pernah ada dilemma pada dirinya sebagai warga Negara dan dirinya sebagai muslim. Insan seperti ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya dalam pembangunan nasional Bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat Islam Indonesia dan sebaliknya.

Yang kelima, kualitas insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil, makmur yang di ridhoi Allah SWT. Yaitu insan yang berwatak, berkarakter, sanggup memikul semua akibat dari perbuatannya. Sadar bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral. Spontan dan ulet dalam menghadapi tugas, responsive dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis. Memiliki rasa tanggung jawab, taqwa kepada Allah SWT. Kemudian korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Sebagai muslimah, anggota Kohati harus mampu menyeimbangkan antara aspek duniawi dan ukhrowinya agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman yang tidak baik. Aneka persoalan yang dialami oleh Kohati baik persoalan yang ada di intenal maupun eksternal seperti yang telah di singgung pada pembahasan di atas, disini bagi penulis tidak terlepas dari kejumudan kohati yang tidak dikantongi oleh al-Quran dan Hadits. Maka sudah sepantasnya kohati memegang teguh ajaran al-Quran dan Hadits sebagaimana yang telah dikumandangkan hampir dalam setiap acara-acara di HMI dan Kohati.

Kohati sebagai organisasi mahasiwi disini memiliki tujuan yang sangat mulia. Yaitu Terbinanya Muslimah Berkualitas Insan Cita. Ada dua poin yang cukup menarik perhatian umum untuk mengkajinya, yaitu muslimah berkualitas insan cita yang dimaksud ialah seorang muslimah yang berkehidupan daam perspektif al-quran dan tetap dalam menjunjung tujuan HMI itu sendiri. Untuk itu, kohati kohati harus mampu menanamakan nilai-nilai al-quran pada diri kohati sehingga mampu menjalankan peran Kohati semaksimal mungkin.

Tujuan Kohati di atas bukanlah hal yang mudah, melainkan harus benar-benar seperti apa muslimah versi Kohati. Karena kewajiban seorang muslimah sangatlah komplit. Seperti penjelasannya dalam al-quran, yaitu kewajiban muslimah terhadap Tuhan-nya, terhadap dirinya, orang tuanya, suaminya dan terhadap masyarakat. Artinya perlu keseimbangan antara kewajiban muslimah dalam dunia domestik maupun publik, dan salah satu kuncinya adalah al-quran.

Oleh karena itu, mari kita mantap kan jati diri Kohati sebagai wadah kaum perempuan dalam menjawab tantangan zaman. Dan menjadikan al-quran sebagai kunci mewujudkan cita-cita Kohati demi kemaslahatan umat.

*Penulis adalah Alumnus UNARS Situbondo, Mahasiswa S2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Wasekum Bidang Internal Kohati HMI Cabang Jember (2016-2017)