Oleh: Hayi Abdus Sukur

Dalam kontestasi, psikologi publik secara sadar ataupun tidak akan terseret dalam “keberpihakan” meski kadarnya berbeda. Mulai keberpihakan secara primordial-emosional hingga model keberpihakan pada nilai objektif-profesional.

Kecenderungan akan keberpihakan secara strategis kadang teraktualisasi dalam wujud dukungan kepada perseorangan, kelompok maupun organisasi.  Sementara pada level etis, keberpihakan  cenderung pada nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan disepakati bersama.

Asumsi dasar dan faktor luar yang saling terjalin membuat gairah keberpihakan secara strategis akan mencari wujud material yang kemudian mengikatnya pada sebuah personifikasi. Dalam kontestasi wujud strategis keberpihakan itu berupa dukungan.

Gambaran nyata dalam kehidupan sosial kemasyarakatan banyak kita jumpai model keberpihakan  tersebut. Misal dalam pertandingan sepakbola, kecenderungan mendukung salah satu club persepakbolaan tertentu sungguh membuat gairah tersendiri. Kata Dahlan  Iskan “jika tidak berpihak, menyaksikan sepak bola gak asyik”.  Gairah keberpihakan membuat suasana  semakin seru. Meskipun dalam kadar tertentu, secara akal sehat suasana perilaku itu serasa tabu.

Keberpihakan dalam kontestasi persepakbolaan membuat orang “bergairah” untuk menyaksikan jagoannya merumput dalam gelanggang pertandingan dan menumbangkan lawan. Meski di luar arena pertandingan, sebut saja hanya akan menyaksikan di layar kaca, para pendukung rela hingga dini hari  menunggu laga club idolanya tersebut. Bahkan yang paling membuat “geli perut” rasanya, menyaksikan perilaku para pendukung yang berteriak baik dalam ekspresi kepuasaan maupun kekecawaan, memaki dan menyalahkan pemain tim idolanya karena tak sesuai harapan dalam memainkan bola hingga masuk ke gawang lawan. Belum lagi menyalahkan wasit hingga memaki club lawan, bahkan saling umpat antar pendukung, padahal mereka menonton di layar kaca ribuan kilometer jaraknya dari real pertandingan tersebut.

Sungguh ekspresi keberpihakan yang kadang “lucu” itu, kerapkali kita jumpai dalam gairah dukung mendukung. Namun yang perlu di sadari sebagai pendukung, apalagi posisinya jauh  dari arena pertandingan saat laga dimulai hingga usai, bahwa kontestasi persepakbolaan pasti ada aturan main yang telah disepakati bersama antar club dan federasi persepakbolaan. Fungsi penonton atau pendukung memberi semangat meski club idolanya harus menanggung kekalahan, karena banyak mata yang menyaksikan dari dekat, baik penyelenggara, wasit maupun tim federasi yang punya wewenang menentukan keputusan dalam proses pertandingan mulai awal hingga akhir. Kata kunci gairah keberpihakan adalah sportifitas sebagai koridornya.

Begitupun dalam kontestasi demokrasi melalui pilkada serentak 2018. Demokrasi telah disepakati sebagai forum terbaik dalam pembelajaran meraih kekuasan secara beradab. Pilkada adalah gelanggang perebutan kekuasaan yang telah dilengkapi seperangkat aturan yang jelas dan diterima semua elemen bangsa.

Para pendukung calon adalah pemberi semangat, membantu mensosialisasikan  program strategis calon yang didukungnya pada publik sesuai  kapasitasnya, serta hak suara dan hak pilih yang telah dilegitimasi oleh negara. Namun yang perlu diingat bahwa pilkada bukan hanya perebutan siapa yang jadi jawara seperti aturan main sederhana ala pertandingan sepak bola.

Pilkada kata wapres Jusuf Kalla adalah alat perjuangan untuk membangun bangsa agar berkeadilan dan sejahtera. Tugas semua elemen pendukung baik yang menang maupun yang  kalah paska pilkada adalah memantau komitmen para jawara dalam upaya membangun bangsa sesuai visi-misinya saat kampanye dalam gelanggang pilkada. Justru tugas semua warga saat ini menunggu proses selanjutnya sebagai titik awal perjuangan membangun bangsa agar tercapai keadilan dan kesejahteraan bagi semua.

Gairah keberpihakan  saat ini harusnya ditingkatkan kualitasnya, dari keberpihakan pada calon sebagai media sementara, menuju pada  gairah keberpihakan pada keadilan dan kesejahteraan warga sebagai tujuan utama. Biarlah penyelenggara berkerja sesuai tugasnya, beri kesempatan para saksi untuk klarifikasi sebagai wujud kebebasan dan tanggungjawab dalam berdemokrasi.

Selamat menunggu keputusan penyelenggara pemilu yang memiliki wewenang sebagai penentu. Sebagai pendukung, baik yang akan menang dan akan kalah, punya hak yang sama untuk memeriahkan kemenangan, karena pemilu damai telah tercapai dengan baik sebagai indikator keberhasilan dari kedaban pemilu. Hingga tiba saatnya memantau proses awal melanjutkan perjuangan mengawal pembangunan daerah sebagai bagian dari wujud pengabdian bagi nusa dan bangsa.*

 

Penulis adalah Pengurus Lakpesdam NU Bondowoso