Share

GEGAP gempita menyambut kedatangan bulan Ramadan dan hiruk-pikuknya kaum muslimin menjalani Ramadan, di satu sisi bisa dipandang sebagai pertanda maraknya kehidupan beragama khususnya di negeri ini. Namun di lain sisi, bisa sebagai bahan perenungan kita semua, terutama bagi peningkatan mutu keberagamaan kita.

Lihatlah bagaimana repotnya pemerintah mengoordinasikan pihak-pihak yang diajak bersama-sama menghitung dan meneropong hilal untuk menetapkan awal bulan Ramadan. Bahkan tahun ini masyarakat umum pun dilibatkan dalam kegiatan rukyatul hilal.Lihatlah spanduk-spanduk yang menyambut kedatangan Ramadan yang terpampang di seantero jalan-jalan. (Lukmanul Hakim, Querita, 2015).

Lihatlah kesibukan para produser dan para insan-insan pertelevisian serta para pemilih PH yang bahkan jauh-jauh hari menyusun program-program Ramadan. Lihatlah ingar-bingarnya masjid-masjid dan musala serta meriahnya acara buka bersama di mana-mana. Lihatlah kepedulian instansi-instansi termasuk kepolisian yang dengan serius berusaha menghormati Ramadhan. Luar biasa. (Gus Mus: 2011: 185-186).

Puasa yang dilakukan umat Islam digarisbawahi oleh Alquran sebagai “bertujuan untuk memperoleh takwa”. Tujuan tersebut tercapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Menurut Muhammad Fakhruddin Ar-Razi ketika menafsirkan ayat tentang bulan Ramadan dan ibadah puasa (QS. Al-Baqarah: 185), bahwa ayat tersebut adalah sebagai alasan (‘illat) dipilihnya bulan Ramadan sebagai bulan puasa.

Karena Allah memberikan keistimewaan pada bulan tersebut dengan menurunkan tanda ketuhanan yang paling agung (ayat rububiyyah), yakni Alquran. Maka manusia sebagai hamba Allah sangat pantas untuk mengabdikan diri dengan mengerjakan ibadah yang menjadi simbol penghambaanya (ayat Al’ubudiyyah), yakni puasa.

Lebih lanjut lagi Ar-Razi memberikan alasan mengapa ibadah puasa yang dipilih sebagai simbol penghambaan bukan ibadah yang lain. Menurutnya hal tersebut bertujuan untuk memutus egoisme manusia (al‘alaiq al basyariyyah). Agar setiap manusia dapat mencapai kesadaran akan eksistensi Zat dan mendapatkan pancaran nur dan mukasyafah (tersingkapnya tabir ketuhanan).

Puasa adalah sebab yang paling kuat (aqwa al-asbab) untuk menghilangkan egoisme manusia. Ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa arbab al-mukasyafat (orang-orang yang memiliki keistimewaan batin) mampu menembus tabir-tabir dengan media puasa. Penjelasan Ar-Razi ini menggunakan argumentasi sufistik yang ditandai dengan ungkapan yang berbau mistik.

Menurut Prof. Quraish Shihab, dalam berpuasa, dari segi hukum, seseorang berkewajiban mengendalikan dirinya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan fa’ali (makan, minum, dan hubungan seksual) dalam waktu-waktu tertentu. Dalam berpuasa, yang bersangkutan juga sekaligus berusaha mengembangkan potensinya agar mampu membentuk dirinya sesuai dengan “peta” Tuhan dengan jalan mencontoh Tuhan dalam sifat-sifatnya.

Oleh karena itu, masih menurut Prof. Quraish Shihab, Rasulullah telah mengingatkan dalam sebuah hadits, “Berakhlaklah kamu sekalian dengan sifat-sifat Tuhan.” Kalau ditinjau dari segi hukum puasa, maka sifat Tuhan yang diusahakan untuk diteladani oleh yang berpuasa adalah: (1) bahwa Dia (Tuhan) memberi makan dan tidak (diberi) makan (QS. 6: 14); dan (2) Dia (Tuhan) tidak memiliki teman wanita (istri) (QS. 6: 101).

Kedua hal tersebut terpilih untuk diteladani karena keduanya merupakan kebutuhan fa’ali manusia yang terpenting, dan keberhasilan dalam pengendaliannya mengantar kepada kesuksesan mengendalikan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Selain itu sifat ‘Maha Pengampun’, ‘Maha Pemaaf’, ‘Maha Pengasih’, dan ‘Maha Penyayang’ juga tak kalah pentingnya untuk diteladani, dan kemudian diterapkan di kehidupan sehari-hari. Selain itu, menurut Muhammad Abdul Azhim Az-Zarqani dalam karyanya, Manahil Ar-‘Irfan fi ‘Ulum Al-Quran, puasa memiliki tiga dimensi sekaligus. Yang pertama yaitu dimensi pembersihan kejiwaan. Dimensi ini menjadi kajian inti para pakar keagamaan dan kesufian. Dimensi ini bersifat transenden, privat  dan tidak terkait dengan hubungan sosial.

Kedua, dimensi moral (akhlaqiyyah) yang merupakan lahan garapan spesialis moral. Aspek moral dalam puasa ini dapat dengan mudah kita pahami karena dalam puasa terdapat pendidikan dan pembiasaan kedisiplinan, ketaatan, penerimaan secara lahir-batin aturan-aturan yang telah ditetapkan, kepatuhan kepada pemimpin, kesabaran, ketahanan, dan perlawanan terhadap kuasa nafsu, penguatan dorongan kepada perbuatan baik, seperti sedekah, memperbanyak zikir, baca Alquran dan sebagainya.

Yang ketiga, puasa memiliki dimensi materi kesehatan. Dimensi kesehatan inilah yang sedang ramai diperbincangkan sebagai bentuk kemukjizatan Alquran yang telah terungkap seiring laju perkembangan ilmu pengetahuan modern. Pengetahuan modern membuktikan bahwa puasa tidak berbahaya bagi tubuh selama dijalankan sesuai koridor syariat.

Dengan merenungkan makna otentik dari disyariatkannya puasa Ramadan yang telah dipaparkan oleh sebagian ulama di atas, diharapkan kita bisa menjadi apa yang telah dipesankan oleh Al-Quran, yaitu ‘menjadi orang-orang yang bertakwa’. Bertakwa disini baik secara vertikal maupun secara sosial. Bukan malah sebaliknya, “sekian banyak orang-orang yang berpuasa yang tidak memperoleh hasil dari puasanya, kecuali lapar dan haus,” demikian sabda Nabi saw.

Sebagai penutup, saya akan kutipkan pendapat dari seorang filosof Muslim, Ibnu Sina terkait dengan pengaruh puasa terhadap orang-orang yang telah mampu merenungi makna puasanya secara otentik, yaitu meneladani sifat-sifat Tuhan, sebagai berikut:

“Seorang yang bebas dari ikatan raganya, dalam dirinya terdapat sesuatu yang tersembunyi, namun dari dirinya tampak sesuatu yang nyata. Ia akan selalu bergembira dan banyak tersenyum. Betapa tidak, karena hatinya telah dipenuhi kegembiraan sejak ia mengenal-Nya. Di mana-mana ia hanya melihat satu saja: melihat kebenaran, melihat Yang Maha Suci itu”.

“Semua dianggapnya sama, karena memang semua sama: semua makhluk Tuhan wajar mendapatkan rahmat, baik mereka yang taat maupun mereka yang bergelimang dosa. Ia tidak akan mengintip-intip kelemahan orang, tidak pula mencari kesalahannya. Ia tidak akan marah atau tersinggung walaupun melihat yang mungkar sekalipun, karena jiwanya selalu diliputi rahmat kasih sayang, dan karena ia memandang sirr Allah (rahasia Allah) terbentang di dalam kodrat-Nya.

“Apabila ia mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mengajak dengan lemah lembut, tidak dengan kekerasan, dan tidak pula dengan kritik dan kecaman. Ia akan selalu dermawan. Ia akan selalu pemaaf. Dan tidak akan ada rasa dendam di dalam hatinya yang telah lapang, karena seluruh ingatanya tertuju kepada Allah.” Semoga puasa kita dan ibadah-ibadah kita yang lain diterima Allah. Dan semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi. (Miftahul Huda)

*Penulis adalah Ketua Lakpesdam NU Bondowoso.